Senin, 21 Juni 2010

Rizkiku, rizkimu.


Mbak Hesti dan aku berangkat ujian siang tadi bersama. Pulangnya juga kebetulan bareng. Sepulang ujian, kami sepakat untuk mampir ke sebuah toserba untuk membeli kipas angin. Sudah tidak betah rasanya bertahan menggunakan kipas manual. Sedangkan musim panas terus menerus merangkak menuju puncak panasnya. Siang tadi saja 44 derajat celcius. Sungguh panas yang tak biasa!

Sambil menahan panas yang terasa menggigit kaki yang sudah terbungkus rapat oleh kaos kaki dan sepatu, kami teguh pada niat untuk membeli kipas angin sebelum pulang ke flat kami. Tapi kami harus menelan kekecewaan saat tak menemukan kipas angin dengan “harga mahasiswa” yang jadi incaran. Begitu keluar ruangan dan kembali disapa sengatan mentari setelah sejenak bisa mendinginkan diri didalam toserba, mbak Hesti mengajukan sebuah usulan, “Kita ke sekretariat aja yuk”. Dengan cepat kepalaku mengangguk setelah bayangan nyamannya sekretariat yang ber-AC itu tergambar di otak. Kaki tak jadi melangkah pulang. Melainkan langsung ke sekretariat dengan membawa oleh-oleh seadanya untuk para mahasiswa yang mendiami aset Pemda itu.

Handphoneku berdering. Telepon dari adik angkatku, menanyakan keberadaanku. Tak lama berselang dia sudah berada di sekretariat tempatku berada, langsung bergabung bersama yang lain menonton bola dari tivi 31” di ruang tengah. Tak terasa 3 jam sudah berlalu. Mbak Hesti sempat masak telor balado plus terong tadi. Bahkan aku sudah menyelesaikan satu film, shalat dan lain-lain. Langit kini cukup gelap namun tak mampu menghapus sisa cuaca lewat hembusan hangat sang angin.

Bertiga kami menyusuri trotoar jalan menuju pulang; aku, mbak Hesti dan adik angkatku, Romy. Kebetulan flat Romy tak jauh dari flat kami, maka kami berjalan beriringan. Seperti lupa pada kehawatiranku dan mbak Hesti tentang nilai yang akan kami dapatkan atas pelajaran yang diujikan siang tadi. Seperti lupa bahwa 3 hari setelah ini kami akan kembali menghadapi ujian mata pelajaran selanjutnya. Kami tertawa, bercanda, berkomentar pada apa-apa yang kami lihat sepanjang perjalanan pulang, mengacuhkan cuaca yang sangat tidak nyaman ini.

Ditengah perjalanan kami berpisah. Mbak Hesti pulang menuju rumah, sedangkan aku dan Romy masih harus mampir ke 2 rumah teman kami karena ada janji. Dua jam kemudian aku sudah sampai rumah dan mendapati rumah dalam keadaan sepi. Bahkan kamarku gelap, tak ada orang. “Kemana mbak Hesti?”, tanyaku yang tak mendapat jawaban.
Aku sedang merecharge handphoneku yang off sejak dua jam lalu karena kehabisan baterai, saat sebuah SMS masuk. Dari mbak Hesti.
“Nduk,ak di flat sblh.Iyah,td ak dah mau tdr!Eh,si Eki nlpn ak ngajak makan,sbnrnya suruh ajak kmu! Ak tlp kmu Hpmu g aktif.Yawdah bkn rizkimu!hehe”

Dengan tersenyum aku membalas SMS tersebut.
“Ho oh Hpku td batrenya hbs sama skali. Ak dpt rizqiku sendiri kok mbak; nonton “Emak Ingin Naik Haji” n pengalaman spiritual tersendiri saat menontonnya”.
“Bagiku itu lebih menyenangkan dari sebuah traktiran makan”, lanjutku dalam hati.
Lalu aku tersentak oleh balasan SMSku sendiri. Selama ini kata-kata “mungkin belum rizqinya” ku pahami sebagai sebuah keadaan dimana ada dua orang atau lebih, mendapatkan kesempatan yang sama. Tapi sebagian dari mereka memperoleh keberuntungan [atau apa yang mereka harapkan] dan yang lainnya tidak. Ada yang bahagia, ada yang sedih. Ada yang beruntung, ada yang tak beruntung.

Nah, bagaimana kalau ternyata kondisinya seperti ini: saat kita kehilangan kesempatan mendapatkan apa yang kita inginkan, diwaktu yang sama pada hal yang berbeda kita sedang menikmati pencapaian lain yang tidak kita sadari keberadaannya. Jadi sebenarnya tak ada yang benar-benar dalam keadaan sedih. Maka tiap orang memiliki keberuntungannya masing-masing.
Maha Inspiratif Allah dengan segala cerita kehidupan yang Ia tuliskan…

Jumat, 28 Agustus 2009

Once upon a time

Aku pernah hampir berhenti menulis. Sampai suatu waktu, seorang kakak memberitahu tentang bagaimana dia menyukai cerita2ku disini. Dan dia selalu mengikuti dan menyimak setiap ceritaku.

And know what? Betapa tidak produktifnya aku akhir=akhir ini karena tak lagi menulis. Dan salah satu alasannya adalah karena kakakku itu tak lagi terdengar kabarnya. Apakah dia masih sesekali mengunnjungi blog ini atau tidak. Kemudian, setelah sekian lama aku lalu menyadari, bahwa gak seharusnya aku berhenti berkarya. Aku harus tetap menulis. Membagi perasaan, menuliskan pengalaman-pengalaman, mengajak orang lain merasakan apa yang sedang dirasakan orang-orang disekitarnya.

Aku harus menulis untuk orang banyak. dan aku harus menulis tentang banyak hal. Biar kalau sewaktu-waktu kakakku itu teringat dengan keberadaan blogspot ini, dia akan menemukan banyak cerita yang kutulis, juga untuknya.

Makasih kak

Kamis, 25 Juni 2009

Perasaan Paling Menenangkan


Lately, I used to hate someone. Padahal dia berada didekatku. Tapi gak tau kenapa, aku ma dia jarang bisa "nyambung". kebayang dong, tiap beberapa jam sekali ketemu, tapi yang ada kita tuh cuma diem-diemaaaan terus. Sakit sih. Makan ati. G tau deh. Pokoknya gitu. Bawaannya tuh aku sering berprasangka yang enggak-enggak mulu ama dia. Entah dulu gimana awalnya, tapi setauku kita semakin jauh, semakin ngerasa asing, semakin membenci, asing. Selama ini sih dia baik-baik aja. Karena meski terkesan g ramah denganku dan beberapa org disekitarnya, dia punya sahbata baik yang selalu nyempetin buat main kerrumah dan menghibur dia. Sesekali, sahabat baik dia itu mengajaknya jalan-jalan keluar. Anehnya, meski aku gak memungkiri kalo hatiku seringnya benci tiap ketemu ato berinteraksi ama dia, aku selalu menikmati gelak yang terdengar sampai keluar kamarnya saat sahabat baik dia melontarkan sebuah humor. Aku juga suka matanya yang berbinar setiap kali membuka pintu rumah, dan mendapati sahabat baik dia ada dibalik pintu sana. Ada kelegaan di hatiku pada tiap senyuman yang muncul diwajahnya.

Sampai suatu ketika, sahabat terbaiknya pergi berlibur. Hanya sementara, sebenarnya. Tapi sperti yag kuceritakan tadi, hanya sahabat baiknya itu satu2nya orang yang bisa memunculkan ekpresi di wajahnya. "Seluruh hari akan kembali bisu. tak akan ada lagi gelak untuk sementara", pikirku. Aku merasakan sedih yang dia rasakan saat kepergian sahabatnya itu. Aku ingin menghiburnya, tapi urung. Karena kupikir, aku tak akan pernah bisa melakukan hal itu setelah semua yang terjadi diantara kami selama ini. kebekuan tak akan mencair hanya karena sedetik peristiwa. Entahlah.

Malam setelah keberangkatan sahabatnya itu, kudengar ada sebuah isak tangis tertahan. Seorang temanku mengetuk pintu kamarnya dan mendapati dirinya menangis. Benar-benar menangis! Benar-benar sedih! Entah dorongan darimana. Mungkin intuisi. Aku sertamerta masuk kedalam kamarnya. Sedangkan teman yang berinisiatif untuk membuka pintu kamar miliknya, hanya terhenti di pintu kamar. Intuisiku bekerja lagi. Aku mengusap kepalanya, merasakan getaran dari isak yang ada. Perlahan, kata-kata pun keluar dari mulutku, mencoba menengakannya. Lalu seketika semua benci dihati hilang. berganti empati. Trus aku nyadar, ternyata perasaan paling menyenangkan adalah menyayangi. Bukan membenci.

Selasa, 09 Juni 2009

dont U think so?

I was underestimate her, when my mate call me to see her performance in one of talent competitions. For the first, I surely underestimate her. Just because of her behaviour, and I think that she's too old, to join that competition. But when I hear she's singing completly, I hum, "damn myself. However, we couldnt "see the book just by the cover". And, dont know what to say, just check it by your self, and You'll think the way I think.

Empek-empek

Suara gemerincing kunci-kunci yang saling berbenturan, mengisyaratkan siapa yang datang
"Kak Alin...", sapaku begitu segurat wajah muncul setelah pintu terbuka. Benar dugaanku. Cuma kak Alin yang punya kunci segitu banyaknya, entah kunci apa saja, yang digabung pada satu gantungan kunci. Dia menjawabku dengan senyuman khas miliknya. Sebuah senyuman tulus. Ia tampak sedikit repot mengatur kantong belanja yg memenuhi genggamannya saat hendak melepas sepatunya. Aku berdiri membantunya membawakan kantong-kantong itu masuk kedalam rumah. Kebetulan aku sendirian diruang tengah. Yang lain sedang bertapa didalam kamarnya masing-masing. Entah melakukan apa saja.
"Abis belanja ya kak"
"Iya tuh. Tadi, mampir ke supermarket bentar. Aku jg tadi abis mampir restoran Indo, trus beli empek-empek buat kalian". Ceritanya.
Fitri tampak keluar dari kamarnya. Hanya menoleh sebentar kemudian berlalu begitu saja. Dia buru-buru ke kamar mandi, tampaknya. Kak Alin menyandarkan punggungnya diatas kursi ruang tengah, lelah. Aku kembali pada kesibukanku tadi, nonton TV.
"Lho Rin, dibuka lho empek-empeknya. Itu kan buat kalian". Aku nyengir gak ihlas. Karna sebenarnya aku gak begitu doyan empek-empek. Bukan apa-apa, tapi mungkin karna aku tidak benar-benar pernah mencoba merasakan makanan itu.
Kak Alin menawarkan kembali untuk menyantap empek-empek yang sengaja dibawanya untuk kami. "Tolong dong, klo gak keberatan, panggil juga Fitri dan teh Jaja ya". Begitulah kak Alin, tutur bahasanya halus sekali. Aku suka.
Akupun beranjak memanggil semua anggota flat kami untuk makan empek-empek bareng. Empek-empek ditaruh pada mangkok besar. Lalu kuahnya dituangkan diatasnya. Sendokpun sudah pada mangkok masing-masing kami.
"Hwaaa.. Empek-empek...", ucap teh Jaja, lebih pada kalimat, "selamat makan...", begitu kira-kira. Kulihat semua orang, kecuali aku, langsung menyendok secuil empek-empek lalu menambahkan kuahnya dalam satu suapan. Aku yang tak pernah benar-benar disuguhi empek-empekpun sudah mulai tergoda dengan bau khas dari kuahnya. Membuat selera makanku langsung bergeliat muncul. Aku melakukan hal yang sama seperti yang lain. Dan saat indra perasaku bekerja mencicipi rasanya.. wuiiihh aku langsung bertekad, "kapan-kapan aku harus beli empek-empek lagi sendiri", padahal yang didepanku saja belum lagi habis. Manusia serakah sepertiku ini masih saja ada ya. Aku menggeleng-geleng sendiri dalam diamku sambil menikmati empek-empek itu.
"Waaah.. kak Alin gi dapat rizqi banyak yha", sekarang Fitri yang urun suara.
"Nggak banyak kok. Tapi, cukuplah untuk beliin kalian ini", jawab kak Alin sambil menunjuk semangkok empek-empek didepannya dengan dagunya. Teh Jaja menelan isi didalam mulutnya hendak ikut bersuara,
"Lha kalo bisa ngebeliin kita empek-empek gini ya lumayan lah rizqinya. Sering-sering aja Lin, heheheh..", gurauan teh Jaja disambut gelak yang lain.
Kak Alin mengusap bibirnya dengan tissue, kemudian menjawab,
"Alhamdulillah, Teh. Teteh inget g? Beberapa minggu yang lalu Alin dapet job gedhe. Honornya aja 10kali lipat dari yang Alin dapat sekarang ini. Tapi ya gitu deh, gak tau gimana, duitnya udah abissss aja. Nah sekarang Alin dimintain tolong kecil-kecilan. Gak taunya dapet bonus nih". kak Alin nyengir.
Ia meletakkan mangkoknya yang menyisa sedikit kuah didalamnya. Sedang empek-empek dan mie yang jadi campurannya, habis tak tersisa.
"Ternyata duit banyak itu gak menjamin kebahagiaan yha", kata kak Alin tiba-tiba. "Buktinya, sore ini aku bener-bener ngerasa legaaa banget bisa nraktir kalian, meski cuma empek-empek. Tapi pokoknya seneng. Karena aku bisa berbagi kebahagiaan yang kurasakan, pada orang lain. Sedangkan dulu pas duitku banyak, aku gak bisa beli apa-apa buat kalian. Bahkan rasanya, kebutuhanku sendiri belum sepenuhnya bisa terpenuhi dengan uang sebabyak itu". Ia menaikkan kedua bahunya, tak mengerti. Lalu disambut senyum "mengerti" dari Fitri dan teh Jaja. Sedang aku sendiri cuma manggut-manggut dan menyuapkan satu sendok terahir empek-empekku.
"Kayaknya beli empek-empeknya kapan-kapan aja deh. Satu ini aja udah kenyang banget", gumamku, kemudian membaca hamdalah memungkasi acara makanku.

Jumat, 15 Mei 2009

Wajahku Hatiku

Once upon a time, aku dan Miella bersepakat untuk berniat mendownload soundtrack film "Perempuan Berkalung Sorban" yang dinyanyikan Siti Nur Haliza itu dari Youtube. Tak henti-hentinya kami bersepakat pula membahas segenap kecantikan Sang penyanyi. Kecantikan wajahnya. Kecantikan Suaranya. Kecantikan hatinya.
"Tapi sayang ya dia gak pake jilbab." celetuk Miella
"Eh, meski gak pake jilbab, tapi aku g pernah lho melihat dia pakai pakaian mini atau yang aneh-aneh. Pakaiannya selalu sopan. Modis lagi." Miella meneruskan sendiri pembicaraannya. Aku tersenyum. Iri.
"Haaahh.. Beruntungnyaaa..," kini aku yang melontar komentar.
"Eits, tenang Kak. Kita juga bisa kok jadi secantik dia", Miella.
"Apanya? Kalau kecantikan hati sih mungkin masih bisa dibentuk. Nah kalau kecantikan dhahir? Menurutku, g mungkin dong aku ganti wajahku dengan wajah orang lain yang cantik. Tapi kalau ngebenerin kecantikan hati sih masih memungkinkan."
"Eh, kata siapa kakak jelek? Kakak tuh manis lhoo. Kak Nirel juga bilang gitu kok."
"Whatever.. Yang pasti aku ngaca selama 21 tahun dan aku gak seperti apa yang kamu bilang. Jadi, yang masih mungkin dibentuk adalah hatiku. Biar menjadi cantik. Sayangnya, hatiku pun sudah terlanjur busuk! Sial".
"..."

Selasa, 12 Mei 2009

Untuk siapa??

Beberapa hari yang lalu aku dapet offline dari beberapa teman dengan isi yang sama. Sebuah kata-kata bijak dari salah satu tokoh dunia. Aku lupa gimana tepatnya kalimat itu tersusun. Tapi intinya, "hiduplah kita dengan sepenuh hati. Dengan perasaan ihlas menjalaninya. Berikanlah yang terbaik untuk hidupmu dan untuk orang lain. Dan berikan sebanyak-banyaknya. Perlakukan orang lain, seperti kau ingin dipelakukan oleh orang lain".

Bagus ya kalimatnya. Bener tuh yang dikatakan, "Berikan yang terbaik dan yang sebanyak-banyaknya untuk kehidupan kita dan untuk orang lain". Biasanya, tanpa kita sadari, kita tuh sering lho menuntut banyak dari orang lain dan dari kehidupan kita. Padahal kita pun sebenarnya belum memberikan banyak. Kalau mau mencerna lebih dalam, kehidupan ini layaknya sebuah kaca benggala. Ketika kita tersenyum pada kehidupan, maka hidup juga akan tersenyum balik pada kita. Iya to?
Coba inget-inget, Pernah nggak mengalami masa dimana kamu tuh bete banget. Abis itu semua orang kena marah dari kamu, kamu cuekin, kamu gi males untuk care ma temen sekost-an ato temen kelas dll. Trus apa yg kamu dpt? pasti mereka juga jd jutek kan ke kamu, jd gak care ama kamu dan itu malah semakin memperburuk kondisimu yang lagi bete. Misalnya aja kamu pas bete gitu, hirup udara segar diluar sana dalam-dalam. Hirup, nikmati, syukuri. Lalu hembuskan nafasmu perlahan. Ulangi beberapa kali. InsyaAllah akan mengurasi beban yang rasanya nyeseg di dada. Nah kalo gi ngerasa bete dirumah, ya keluar aja bentar. Nyari suasana baru. Kalo dah ktemu temen diluar sana, dan kamu datang dengan senyuman, mereka pun akan menyambutmu dengan senyum yang sama. Alih-alih, mereka memberikan hiburan dan kegembiraan yang saat itu gak kamu dapetin dirumah dan menghapuskan dukamu.

Tapi inget, keluar rumahnya jangan lama-lama, apalagi sampe niat untuk gak balik pulang. Dunia yang bulat ini berputar kok. Dunia yang kecil ini juga bakalan fana, rusak, g abadi. Tangis dan tawa itu tak akan selamanya. Bisa jadi, suatu saat dunia baru menyenangkan yang baru-baru ini kamu temukan juga akan memberikan luka untukmu.
So, hiduplah dimana saja, kapan saja, berikan yang terbaik, sebanyak-banyaknya.

Aniwei, dari kalimat yang panjang lebar diatas tadi, kalimat terahir aku gak setuju. Kenapa kita harus memperlakukan orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain? Kan kalimat sebelumnya udah jelas, "berikan yang terbaik untuk kehidupan dan untuk orang lain. Sebanyak-banyaknya". Tanpa harus ada embel-embel dan ngarep bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama pada kita. Soalnya nih, kebayang gak sih kalo setiap tindakan baik yang kita lakukan, berdasar pada keinginan kita untuk diperlakukan seperti apa yang udah kita lakukan untuk orang lain. Kita ngasih sedekah ke fakir miskin, dengan harapan, suatu saat Allah akan membalasnya -entah lewat siapa- dengan kebaikan. Lha iya kalo kita bisa exactly know balasn itu berwujud seperti apa. Kan nikmat Allah itu beraaaagam banget. Beda kalo kita main email-emailan. Kita bisa dengan mudah nge-check apakah email balasan udah kita terima ato belom. Nah kalo balesan itu dari Allah, bisa beragam banget kan bentuknya. Diberi izin untuk masih menghirup udara dengan normal(lewat hidung lalu mengalir ke paru-paru), masih diberi anggota tubuh yang utuh, gigi yang genap(cuma agak bolong-bolong dikit gerahamnya), masih bisa membagi senyum, dll itu kan merupakan anugerah yang oftenly didn't noticed by us. Hayo ngaku...

Kalo kita dah ngasih sesuatu ke org lain. Trus berharap bahwa orang lain melakukan hal yang sama, bisa "makan ati" nih kita kalo balasan itu ternyata tak kunjung datang. MIsalnya, kita ngalah karena ngeliat piring kotor yang menumpuk dirumah. Padahal harusnya tiap orang rumah tahu, "barang siapa ngotorin piring ato gelas, dia juga yang bertanggungjawab mencucinya". Tapi apa kenyataannya? Just do the thing you think it's right. Inget, tanpa harus berharap bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama lho ya.. Soalnya gini, kamu pasti bakal gondok kalo ternyata kejadian tadi berulang-ulang dan selalu saja kamu yang kebagian nyuci cucian milik orang lain. "Yawdah, klo gt tuh cucian diemin aja". Gimana kalo semuanya ternyata pada g peka dan kamu adalah 'the chosen one' untuk melakukan semuanya. Karena kalo bukan kamu yang dengan lapang dada melakukan semuanya, siapa lagi? Mengalah bukan berarti kalah kok. Toh, asalkan kita gak ngarep bahwa orang lain akan melakukan seperti apa yang udah kita lakukan untuk orang lain, semuanya akan terasa lebih ringan. Jadiiii, "berikan yang terbaik untuk hidup kamu dan untuk orang lain, sebanyak-banyaknya. Itu saja". Keep smile yha.. ^-^


-Jika surga dan neraka tak pernah ada-

Senin, 04 Mei 2009

I know you exist

-Kenangan selalu ada. Bagi mereka yang memang ingin mengenangnya, atau tak sengaja terkenang begitu saja. Pahit atau manis, kenangan tetap dengan bentuknya. Atau mungkin ini aku yang sekarang takut untuk "mengenang"? Hawatir kalau-kalau aku malah akan terhenti dan larut lagi dalam kenanganku. Maaf karena aku tak pernah tahu, apakah kau tetap hanyou atau memilih menjadi yokai, menjadi seperti Sesshomaru. Sama seperti ketidaktahuanku, apakah kau bersamaku atau sedang bersama Kikyo. Yang aku tahu, I know that you exist, for me, for Kikyo, for your sword Tessaiga, or even for them-

Selasa, 14 April 2009

Bukan Kemarin

Gundah masih menjajah
Resah masih menggelayut, membuat semua yang terjalani kembali tak berarti. Jalan yang sering kunikmati bersamaMu kini hilang sudah. Tak ada lagi Engkau. Atau aku yang lupa bagaimana cara merasaiMu. Mungkin pula Engkau yang telah berpindah tempat. Dari hati kemudian beranjak sekedar bertengger di otakku. Kini hadirMu tanpa arti, tanpa rasa, tanpa
kata-kata. Jalan yang dulu kita lalui sekarang telah kulupa. Aku hanya memintaMu membawaku kembali kemasa-masa itu, dan jangan pernah lagi mengambilnya. Dariku, pun juga darinya, dari kami.

Bundelan tanya yang kulayangkan padaMu tak terjawab. Pada hari kemarin. Kenapa tak langsung memberikan jawabannya? Kenapa membiarkanku tersesat jauh lagi? Kenapa aku masih saja bertanya jika aku meyakini bahwa Kau punya rahasia dibalik semua ini?

Dan saat Kau kini telah memberikan jawaban padaku. Bukan langsung dariMu. Tapi lewat lumpur-lumpur kotor itu; yang ternyata menyimpan mutiara. Dan mutiara itu tetaplah mutiara. Meski didalam lumpur, kilaunya tetap.
Ketika jawaban yang kunanti itu ahirnya datang. Sekarang. Bukan kemarin. Bukan juga lewat wali-wali para pewaris NabiMu sebagaimana yang aku harap bisa menenangkanku dengan semua kebingunganku, "apa yang harus kutinggalkan; aku lupakan"

Suatu siang, saat hawa panas menyerupai cuilan asap-bergemuruh yang memenuhi neraka terasa sampai ke bumi. Ketika aku merebahkan tubuhku dan serta-merta busa yang menyangga seluruh beban tubuhku menjelma lumpur. Lumpur hidup yang terus menyeretku kedalam tanyaku sendiri. Lumpur kotor-menjijikkan yang ternyata malah membuatku nyaman. Lumpur hitam-lengket yang ternyapa menyimpan mutiara, yang memancar mencuat dari dasarnya. Dan aku malah menikmati untuk berlama-lama berada disana. Tapi sebuah kesadaran menarikku keluar dari lumpur itu. Yang saat aku telah berada ditepiannya, yang kusangka lumpur ternyata adalah tumpukan mahkota bunga mawar putih, semerbak.

Aku tertipu. Oleh semua yang kulihat. Diriku sendiri. Tetap saja, terimakasih Allah, karena jawaban itupun ahirnya datang. Meski hari ini. Dan bukan kemarin

Senin, 13 April 2009

Diri ini bukan seperti yang kau kenal, Fa
Ini bukan jasad dengan sebuah nama
Pergulatan yang memenuhi dada antara malaikat dan setan kini telah dimenangkan
Oleh Setan
Tidak ada lagi malaikat
Malaikat telah mati
Tapi benarkah malaikat bisa mati?
Setan berkuasa, setan memelukku erat.
Tapi aku merasa aku masih mampu melihat cahaya
Darimana?
Lalu suara-suara menjawabku
-Bukankah api-api sumber kehidupan para setan itu juga memancarkan cahaya?-
Apakah sebagaimana cahaya yang para malaikat tercipta?
Benar katanya
-Ketika sebuah kata dari hati yang terluka menjadi sebuah sabda-
Yang aku hina
Bahkan Sang lacur demi mencukupi hidupnya adalah lebih mulia dibandingkan aku
Nama ini tinggal nama
Jasad ini tinggal jasad
Bergeming, entah digerakkan setan atau malaikat yang ternyata masih tinggal
Jawaban yang ku pertanyakan pun tak kunjung ku dengar
Bolak-balik
Morat-marit
Komat-kamit
Aku

Tuhan, aku berada dimana?Aku tidak tengah diantara golongan kanan; mereka yang mengimanimu, yang selalu tergetar pada ayatMu, beribadah padaMu meski tanpa iming-iming surga lalu Engkau datang dengan janjiMu
Apa aku ditengah kiri; mereka yag mengingkari dan tak pernah sekalipun menghiraukan ayatMu lalu Engkau datang dengan siksaMu. Tapi Tuhan, rasanya aku bukan bagian dari keduanya. Lalu aku dimana? Dan Engkau dimana? Masihkah bertahta dalam hatiku?

Senin, 16 Maret 2009

Malesnya berangkat ke sekolah

Pagi tadi matahari sudah cukup tinggi menyingsing pas aku bangun tidur selepas subuh tadi. Jam 8.20, mataku melirik hape yang selalu setia berada didekat bantalku sepanjang malam. Wah, hari ini musti masuk sekolah ni. Aku menggeliat mengusir rasa malasku. Tapi malah kugulung badanku dibawah selimut saat sejenak kemudian aku disambut angin dingin. Ya, belakangan cuaca diluar memang unpredictable. Kemarin-kemarin sempat badai debu selama tiga hari gak berenti-berenti. Padahal saat ini kan winter. Beberapa hari yang lalu aku malah sempat salah kostum. Pas aku ngecheck udara dengan cukup keluar ke balkon kamar flatku tu panas. Eh taunya, pas malemnya kan aku masih diluar, nah udaranya jadi berubah windy plus duingiiiin banget. Hadooooh...

Begitulah, sebagaimana cuaca yang gak ketebak itu pula yang jadi alasan pendukung kenapa aku jadi ngelasa males-malesan berangkat sekolah pagi ini --halah, emang kamunya aja kali yang males O'--. Yah, setelah pergulatan suara hati yang begitu sengit -halah-, dan setelah menimbang baik-buruknya, ahirnya diputuskanlah untuk berangkat ke sekolah :D

Dingin.. Ya, diluar dingin. Tapi dengan semangat '45 demi tak ingin mencecap pahit yang pernah terasai olehku dulu, aku pun berangkat ke sekolahku yang tidak mengharuskan muridnya hadir setiap hari itu. Ah, rasa malas dan berat itu memang hanya terasa saat aku masih diatas kasur tadi. Toh setelah aku melangkahkan satu kakiku, semuanya terasa ringan. Apalagi setelah sampai disini, di sekolahku. Uuuuuughh... wangi angin yang sangat menyenangkan disini. Berdasar tata letak sekolahku, kelasku terletak setelah kampus kedokteran gigi dan kantin sekolah. Jadi saat datang dari gerbang sekolahku, kalian akan melewati gedung untuk anak-anak psikologi. Disusul selanjutnya kampus kedokteran gigi itu tadi yang sebagian kelasnya dipakai untuk anak theologi tingkat 1. Berjalan semakin jauh dengan struktur bangunan yang semakin masuk kebawah -seperti tertanam didalam bumi- maka kemudian dua kantin berjajar penjual macam-macam sandwich, pizza dan snack-snack ringan beserta minumannya. Nah, setelah itu baru deh urutan kelasku yang terletak di bangunan lama sekolahku -universitasku, maksudnya- :D

Nah aku tuh paling suka kalo berada di area kantin sini. Karena disini ini tempatnya para bidadari berkumpul. Entah mereka itu baru hendak masuk kelas, atau selesai mengikuti kelas pelajaran mereka, atau mereka yang hanya menjadikan kantin ini tempat janjian dengan temannya. Entah. Tapi aku suka saat berada disini. Aku bisa melihat banyak bidadari. Mau kecantikan yang sepeti apa? Jutaan kecantikan ada disini. Mau bentuk hidung bangir seperti apa? Kekreatifan Tuhan ada disini. Mau style baju yang kaya' apa? Semua ada disini. Bidadari-bidadari itu memang tidak pernah tahu bahwa seorang manusia sedang menikmati keindahan mereka disini. Ah, kalau sudah begini rasanya menyesal juga kenapa tadi sempat terbersit untuk malas ke sekolah.

Agar tak dicurigai oleh bidadari-bidadari itu, aku meneruskan perjalananku seperti biasa. Kemudian hatiku dikagetkan oleh sebuah pandangan sepasang mata didepan sana. Itu Zanuba!
Hei, apa kabar mbak? sehat kan? Aku menyapa bidadri itu
Hamdulillah.. Baru mau masuk kelas ya?
Iya nih
Hup. Sebuah tangan mungil menyelinap masuk dicelah lenganku dan menggandengku
Pagiiiii,
sapanya. Sekarang Lilis.
Oke deh, aku juga mau ngurus administrasi untuk perpanjangan izin tinggal dulu ya, Zanuba pamitan. Kujawab dengan senyum. Aku menuju kelasku ketika dari belakang terdengar seseorang memanggil pelan namaku.
Ukhtiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii, teriakku saat tahu siapa yang berada dekat dibelakangku. Entah kapan terahir aku ktemu ukhti Zulfa, yang aku tahu aku begitu merindukannya. Merindukan wajah teduhnya yang selalu tertutup cadar dan hanya menyisakan kilau matanya tiap berada diluar rumah. Dan aku juga merindukan cerita-ceritanya, dan senyumannya. Aku memeluknya erat.
Alhamdulillah, terimakasih karena mentakdirkan aku untuk ke sekolah, jadi aku bisa ketemu teman lamaku, Allah.

Aku berjalan pelan bersama ukhti Zulfa saat beberapa jarak dariku ada bidadari lain yang lewat begitu saja.
Ebah!!
panggilku sedikit berteriak.
Hwaaaaa... O'o.... Kecantikan itu mendekatiku. Cipika-cipiki. Sebentar bertanya kabar dan membuat janji. Iya, hanya sebentar pertemuan kami tapi membuatku selalu mensyukuri takdirku hari ini.

Begitu kelas diahiri, aku pun keluar dan beranjak meninggalkan sekolah. Ketika berada di taman sekolah, aku berteriak histeris ketika melihat bidadari lain yang menghampiriku; Chopi.... Itu juga ada Jessy, ada Putri. Hwaaaa.. Allah, hari ini aku ktemu banyak banget temen-temeeen..
Mereka yang, bagiku mungkin butuh waktu lebih dari sehari jika sengaja menyempatkan diri maen kerumah mereka masing-masing yang terpisah-pisah. Tapi cuma dengan berangkat ke sekolah, aku bisa ktemu mereka, menyapa mereka, bercengkrama dengan mereka, memeluk mereka. Makasih Allah, meski sempet males, ahirnya tadi aku berangkat sekolah juga ^0^

Jumat, 13 Maret 2009

Pelukan

Pernah baca "Chicken Soup for Soul" gak? Dulu pas ulang tahunku ke 17, Kakakku yang cowok --kakak pertamaku-- ngasih aku hadiah buku itu. Isinya tu, uuughh... baguuuuus banget. Membangkitkan semangat, menentramkan jiwa, memberikan alasan-alasan logis kenapa kita harus berbuat baik, tentang kekuatan senyuman, dan satu lagi;manfaat sebuah pelukan.
***

Suatu malam, tersebutlah sebuah keluarga kecil ditengah hutan belantara. Bukan. mereka bukan tinggal sendirian. Mereka memiliki tetangga disekitar rumah mereka. Namun sayangnya, lingkungan tempat mereka berada adalah sebuah lingkungan padat penduduk tanpa keramahan. Hidup mereka dipisah oleh daun pintu rumah. Begitu daun pintu sebuah rumah itu tertutup, maka terputus pula segala bentuk interaksi dengan dunia luar, kecuali interaksi yang terjadi didalam rumah itu sendiri. Bahkan bukan tidak mungkin, didalam rumah itu sendiri kehidupan pun masih dipisah, oleh hal yang sama;daun pintu kamar!

Tersebutlah Nila, Mila dan Kila. Sebagai bungsu, justru Nila menjadi anak paling rajin diantara kedua saudara tuanya. Setiap pagi dia membereskan ruang tamu, mencuci piring sisa makanan pada malam lalu dan membereskan apa-apa yang perlu di rapikan. Begitu yang terjadi sepanjang pagi di tiap harinya.
Sesekali, Nila merasa jenuh juga jika harus terus-menerus mengalah menghadapi sikap acuh takacuh kedua kakaknya.
"Kalau kamu merasa lelah untuk mengalah, berarti kamu selama ini tidak benar-benar mengalah ya?", begitu tanya Nila pada dirinya sendiri. Dan kalimat sama yang diulang-ulang didalam otaknya itulah yang membuat dia bertahan.
Namun apa mau dikata, sebuah kewajaran ketika Nila tidak lagi mampu bertahan dengan semua kegiatan monoton yang dilakukannya sehari-hari .
Paginya pun berubah. Yang tadinya penuh dengan kegiatan, sekarang hanya diisinya dengan tidur, tidur dan tidur. Padahal Nila sudah tidur semalaman, tapi ya mau gimana lagi.
"Masa aku lagi yang masak sarapan? Masa aku lagi yang beres-beres rumah? Masa aku lagi...??!!", batin Nila. Dan suara-suara yang biasa memberi semangat Nila untuk melakukan banyak hal, kini bisu. Tak terdengar.

Tampaknya suasana musim dingin tidak hanya terjadi diluar rumah saja. Bahkan, masuk hingga kedalam rumah Nila sekeluarga. Nila kini yang juga jadi ikut-ikutan acuh-takacuh. Rumah berantakan, gak ada lagi sarapan tiap pagi, piring menumpuk di wastafel dapur.. Ah, semuaaaanya kacau.
Rapat keluarga pun digelar. Nila mulai disidang oleh kakak-kakaknya.
"Nila, kamu kenapa sih ahir-ahir ini kok berubah?", tanya Kila si sulung.
"Kakak udah jarangn melihatmu terbangun saat kakak bangun. Biasanya kan kamu yang paling awal bangun dirumah kita", sambung Mila.
"Iya! Aku yang paling awal bangun. Aku juga yang membereskan rumah. Selama ini juga aku yang menyiapkan sarapan. Aku, yang sering membereskan semua apa yang kalian tinggalkan. Dan kalian gak pernah tahu hal itu, karena kalian saat itu masih tertidur!!!", Nila berteriak membela diri. Dan suara hatinya itu hanya terdengar oleh telinganya sendiri. Sedangkan Mila terlihat bingung dengan sikap adiknya yang bungkam.
"Ya sudah", kata Kila memutuskan, "sekarang kita buat kesepakatan, bagaimana kalau kita menjaga dan memelihara rumah kita bersama-sama." Sambungnya.
"Lho, memang seharusnya begitu!", protes suara hati Nila.
Hati Nila nelangsa, batin Nila tersiksa. Entah kenapa, Nila merasa kata-kata kakaknya barusan begitu menyakitinya. Seolah selama ini rumah memang tak terurus. Tapi bukankah selama ini Nila yang membereskan semuanya? Meski memang mungkin kakak-kakaknya tidak perrnah tahu karena mereka pasti masih terlelap saat Nila melakukan semua aktifitasnya dipagi buta. Nila ingin menangis, Nila ingin melelehkan semua sakit hatinya lewat airmata yang mengaliri pipinya. Tapi Nila tidak ingin menangis didepan kakak-kakaknya. Nila tidak mau terlihat lemah didepan mereka. Biar saja Nila yang merasakan semua. Tak perlu lah memberitahu mereka bahwa selama ini justru Nila yang telah melakukan banyak hal untuk mereka. Nila ingin menangis, Nila ingin dipeluk...
Hati Nila semakin terbebani saat diingatnya bahwa biasanya Peri Bunga selalu datang menawarkan pelukan saat dia ingin menangis seperti saat ini. dan entah bagaimana, Nila tak pernah tahu, pelukan hangat dari Peri Bunga yang tubuhnya lebih kecil dari Nila itu mampu memberikan kehangatan yang mengaliri seluruh tubuhnya melebihi jaket bulu panjang yang sering dikenakannya saat musim dingin. Tapi kini sedang musim dingin, Peri Bunga tak mungkin berada diluar sana. Karena peri bunga hanya muncul di selain musim ini.
Lalu Nila juga teringat pada Yiba, sahabat terbaik yang sudah dianggapnya sebagai kakak, yang selalu menyediakan pelukan sayang untuknya saat Nila memintanya. Tapi saat ini Yiba sedang berburu di rimba. "Akankah Yiba merasakan bahwa seseorang membutuhkan pelukannya saat ini?", tanya Nila pada hatinya. Namun malam hanya menjawab dengan hembusan dinginnya. Hati Nila benar-benar nelangsa kini. Tak satupun pelukan didapatkannya. Tidak dari Peri Bunga, tidak pula dari Yiba.
"Allah, Nila pengen nagis..." Dan airmatapun meleleh.
Airmata Nilapun membuncah dari bendungannya. Nila menangis karena merasa lelah dengan semua ini. Nila juga menangis karena merasa sendiri. Nila ahirnya menangis...
Malam masih sepi, menyisakan hembusan beku. Suasana musim semi semakin menambah kekakuan yang tercipta. Nila masih ditengah tangisannya ketika dia rasakan sebuah hawa hangat pelan-pelan menyentuh pundaknya. Rasanya seperti sentuhan Peri Bunga.
"Tapi Peri Bunga tak mungkin ada disini." Ia menyapukan pandangannya keseluruh ruangan. Dan memang Peri Bunga tak ada disana. Sentuhan hangat itu semakin terasa merengkuhnya. Seolah terbawa dalam hangatnya kasih, Nila semakin larut dalam tangisannya didekap pelukan tak bertuan. Dan ketika Nila mulai menyadari bahwa tak seorangpun yang memluknya, ia kemudian tahu bahwa yang kini mendekapnya dengan kehangatan adalah Allahnya! Disaat semua kemungkinan tidak mungkin lagi terjadi, saat itulah usapan tangan Allahnya menepis airmata yang berjatuhan. Nila kini tak sendirian lagi, Nila kini tak nelangsa lagi. Nila mendekap balik kehangatan yang sekarang dirasakannya, "Nila sayang Allah...", akunya.
Malam musin dingin dengan tangisan Nila ditengahnya. Tanpa Peri Bunga. Tanpa Yiba. tapi Nila selalu punya Allah yang akan menemaninya kapan saja..

Selasa, 03 Februari 2009

Ada cinta dimana-mana...


Weits weits weits, ada apa nih kok tiba-tiba aku ngebahas satu hal sensitif ini yha? Jadi ceritanya, aku dah gak betah banget buat nulis "cinta" yang aku temui dimana-mana dalam waktu ang berdekatan ahir-ahir ini. And those stories are...

***

"Ada dua hal yang gak bisa disembunyikan didunia ini; batuk dan cinta", setuju gak ama ungkapan diatas? Secara rasio, batuk yg disebakan karena gatel yg terasa ditenggorokan emang gak bisa banget kita sembunyiin. Pasti deh kita harus memompa oksigen dari dalam paru-paru untuk membantu ngilangin gatel yg kita rasain ditengorokan itu tadi dengan 'batuk'. Atau minimal dengan ber-dehem deh. Tapi yg pasti, orang lain disekitar kita pasti tau kalo kita lg batuk(g lucu dong, klo ngaku batuk tp gak bersuara, hehehe..) Iya to?. Yg kedua; cinta. "Serius lo, cinta bs kok dipendem aja didalam hati". Sumpe lo??? Secara, mungkin aja sih kita diem seribu bahasa, g mau mengakui kalo cinta tuh ada dihatimu. Tapi bahasa tubuh dan smua hal yang muncul dari hatimu gak akan bisa berbohong.

***

Uta gak pernah bilang kalo dia gi suka ama seorang cewek. Selain karena dia emang orangnya pendiem banget, dia emang selama ini gak mau mengakui kalo dia suka nih cewek. Dia selalu menghindari perasaannya, berdalih bahwa yang dia lakukan selama ini adalah profesionalisme kerja yang dia geluti. Namun yang tidak Uta tahu, semakin dia menghindari dan mengingkari perasaan cinta dihatinya, semakin perasaan itu tertanam kuat dan tumbuh. Begitupun si cewek yang sama-sama keras kepalanya, g mau mengakui perasaannya. Ngakunya sih apa-apa yang dilakukan selama ini tuh buat ngerjain dan ngrepotin Uta aja, pengen aja sekali-kali ngeliat Uta yang gak pernah marah itu, marah. Whatever...

Suatu saat, Uta, si cewek beserta rombongan lain termasuk aku gi jalan-jalan. Secara bergilir, kita gantian meleknya buat nemenin supir. Maklum, perjalanan keluar kota gitu, jauh. Selama sang supir dah ada yang nemenin ngobrol maka yang lain tidur deh, nyimpen tenaga buat pas gantian bertugas nanti.

Sore itu tugasnya si Hiu putih nemenin bu supir. So, yang duduk disedan bagian belakang tuh aku, Uta ma si cewek itu. Suasana yang isinya pohon2 dan tiang lampupun bikin perjalanan jadi melow dan bikin ngantuk, meski langit masih agak terang dengan matahari yang bersiap tenggelam ditelan samudra.

"Awas tuh ya, ntar pas tidur jangan-jangan Uta nyuri-nyuri pandang kekamu", kata Hiu putih manas-manasin.

"Idiih.. ngapain jg. Mending ngeliat jalan deh." Kilah Uta

"Awas ya kalo sampe aku kesentuh. Meskipun gi bobok dan gak sadarkan diri, kita tetep musuh!" si cewek meng-ultimatum.

Gak tau kapan aku terlelap, setauku pas aku bangun langit udah berwarna gelap. Dan saat aku menoleh kearah Uta, know what??? Uta ma si cewek gi bobok saling menyandarkan kepala gitu. Rukuuuun banget. Halah, kalo gi pada bangun aja dah kaya Tom&Jery, tp klo bobok dan gak sadar gitu, hati mereka membawa kejujuran bahwa mereka sebenarnya "dekat". Uta tersentak karena mobil yang terantuk kerikil jalan yang tak terlihat oleh bu supir, gi badai kabut dan pasir nih ceritanya. Sedangkan si cewek, mungkin saking capeknya habis nemenin bu supir, msh terlihat tertidur pulas. Secara, aku yang takut ketahuan kalo lagi merhatiin Uta dan tuh cewek, langsung pura-pura bobok lagi. Selain, aku pengen aja ngeliat gimana reaksi Uta kalo tau cewek yang "nyebelin" itu nyandar dibahunya. Bu supir kembali nge-rem mendadak pas tau ternyata kita memasuki jalan yang gi dalam renovasi. Mobil pun bergetar agak keras karena permukaan jalan yang g rata. Yang bikin aku kaget adalah reaksi Uta, yang ternyata malah menggeser posisi kepala si cewek agar bersandar dengan nyaman dibahunya, dan memegangi kepala sang cewek agar tak terlalu merasakan guncangan mobil. Dan saat medan tak mengenakkan itu berlalu, Uta kembali meletakkan kepala si cewek dibahunya agar tetap terlelap nyaman. Ealah...

***
Sebenarnya ada satu anggota tambahan yang ikut traveling diatas. Tapi dia spesial soalnya gak kebagian jaga nemenin bu supir soalnya dia masih dibawah umur, baru 10 tahun, hehehe... Enggak tahu gimana ceritanya, yang aku tahu dia udah ikut aja kedalam mobil. Tapi yang pasti, kita udah dapet legalisir dari Ayahnya buat ngajak tuh anak jalan-jalan. Kita pikir izin ke Ayahnya aja udah cukup. Tapi kita salah juga sih, kenapa gak izin ama Bundanya yang hidup terpisah. Nama anak ini Isha. Tadinya direncanakan jalan-jalannya cuma sehari. Tapi karena beberapa pertimbangan, ahirnya kita nambah sehari lagi. Alhamdulillah dapet izin dr sang Ayah. Sepanjang perjalanan pulang, HP bu supir gak pernah berenti dapet telepon dari Ayahnya Isha yang nanyain keberadaan putri tercintanya. Yang jawab telepon aja ampe cape ngejawabnya, hehehhe....

Sesampainya kita di Cairo lagi, terlihat sang Ayah sudah menunggu kami(nunggu putrinya ding, hehehe). Aku ma temen-temen laen masih bersih-bersih mobil, ngluarin barang pribadi dari mobil dan hendak mengembalikan tu mobil sewaan ke pemiliknya. Dan pas aku masuk rumah, yang terlihat tu Isha ma Ayahnya sedang berpelukan erat sekali.

"Wah, Isha kangen2an ama Ayah ya?", kataku sekilas lewat didepannya. Isha hanya menjawab dengan senyuman. Dia sedang menyimak kata-kata Ayahnya yang treucap pelan, yang sengaja tak kudengar pas lewat itu tadi, "Ayah kangen Isha. Ayah nyusul Isha kesini, tapi Isha udah gak ada. Ayah lupa kalo Isha ikut mbak2 ama mas2nya jalan-jalan..."

"Ya Allah, mereka hanya berpisah 2 hari, tapi kerinduan telah terlalu memenuhi dada", gumam hatiku.

***

Paginya, setelah begitu nyenyaknya istirahat sepulangnya dari luar kota semalem, aku yang bangunnya paling telat kemudian diberi tau ama bu supir kalo Bundanya Isha pagi-pagi banget tadi ngejemput Isha untuk dibawa pulang. Kata Bunda Isha, beliau udah seminggu lebih gak ngeliat Isha. Ayah Isha katanya gak ngasih izin ke Bunda Isha buat ketemu Isha, even on the phone. Bunda Isha dateng marah-marah gitu. Marah ke Ayah Isha, marah ke Isha kenapa gak pernah ngasih kabar ke Bunda, dan ke kami yang udah ngajak Isha jalan-jalan tanpa sepengetahuan Bunda Isha.

Kehawatiran Bunda Isha, dan kemarahan beliau itu karena beliau begitu mencintai Isha, bukan?

***

Cinta bukan hanya yang terjadi pada hati Uta. Atau pada siapapun mereka yang merasa ingin memberikan yang terbaik untuk seseorang. Pelukan Ayah Isha, kemarahan Bunda Isha juga merupakan warna lain cinta. Aku melihat cinta dimana-mana. Juga pada seseorang yang sunyi bersuara, "Aku kini benar-benar berempati pada mereka yang pernah terpisah dari orang yang mereka sayangi..."

Rabu, 21 Januari 2009

Pilihan

Dunia dan kehidupan menghidangi kita banyak sekali pilihan.
Baik,
buruk,
hitam,
putih,
pelangi,
kanan,
kiri,
depan,
belakang,
menjadi orang nomor satu,
menjadi pengurus OSIS,
menjadi orang biasa,
mengikuti trend,
fashionable,
jadi diri sendiri,
menciptakan fashion sendiri,
jadi dokter,
petani,
nelayan,
kuli,
pegawai,
wiraswasta,
ya, dan
tidak

--Tania memilih menjadi wiraswasta, dia bangun sendiri butik aksesoris impiannya dan beberapa kali dia memilih untuk membuat sendiri pernak-perniknya.
--Bagi Harun kecil, menjadi dokter adalah cita-cita mulia. Dan hingga dia menyelesaikan kuliah kedokterannya, dia masih dengan pandangan yang sama ttg "menjadi dokter"
--Meski Ratna tau resiko berat yg akan ditanggunya, dia menjawab "iya" saat diajak Anto climbing
--Demi kelangsungan hidup, bbrp org memilih untuk melacurkan dirinya
--Demi menikmati masa muda, seorang Intan menyibukkan diri dengan segala bentuk kegiatan ekstra kulikuler. Berbeda dgn Indah, kembarannnya, yang lebih memilih diam dirumah dan berkutat dengan bukunya
--Seorang teman terlihat tak cenderung kesalah satu dari sekian banyak pilihan. Dan jawabnya saat kutanyai; "Memilih untuk tidak memilih jg sebuah pilihan, bukan?"
--Masih belum hilang ketidakpahamanku, aku dihadapkan pada ketidakpahaman yang lain ketika seorang teman yg lain berkata, "Aku memilih untuk memilih lbh dari satu pilihan"

Sabtu, 17 Januari 2009

Diantara



Saat masih remaja, aku bangga
kalau dianggap dewasa

Tapi saat aku telah tepat berada dipenghujung remajaku,
aku malah dengan childishnya bilang, "aku gak mau dewasa..."



Rabu, 24 Desember 2008

ConspiratioN


Angin yang berhembus mendesah sepi. Hanya dingin yang menyambut. Sebagian besar penduduk memilih bersembunyi dibalik dinding mereka. Menghindari ngilu yang menyergap pada tiap pori-pori. Tiada keramahan dimalam hari musim dingin. Tidak. Meski kau memilih memakai selimut awan bermerek sekalipun, angin tak berbentuk itu akan meliuk menelusuri celah, berpura-pura membelai kulitmu, kemudian pelan-pelan menikam tulangmu dan menggerogotinya secara perlahan.


"Apa kita tidak bisa memilih tempat yang lebih hangat untuk bermusyawarah?", protes seorang anggota majlis

"Lupa kamu, kalau dingin sudah tidak lagi mampu mengganggu rapat penting ini", gertak yang lain

"Sepenting itukah?"

"Menurutmu kenapa kau jauh-jauh diundang kesini? Dan kenapa juga mereka rela jauh-jauh datang kesini," ujung jarinya menunjuk berkeliling, ke sebuah barisan mahluk sesamanya yang terbang mengambang, melayang membentuk sebuah barisan-barisan perang melingkar, dan para pembesar mereka berkumpul ditengah-tengah.

"Siapa target kita sekarang?" seperti tanpa ragu akan kekuatan sang musuh, seorang pembesar dengan ekor merahnya yang dikibas-kibaskan, bertanya sambil memasang wajah serius.

Pemimpin para pembesar itu menyebutkan sebuah nama, disusul gidikan ngeri segenap anggota majelis. Tapi tidak oleh barisan perang tadi. Mereka riuh dengan suara mereka sendiri yang jumlahnya ribuan itu. Mana bisa mereka mendengar suara para pembesar mereka yang berjarak beberapa meter ditengah sana. Dan mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk mengetahui siapa target mereka saat ini hingga harus mendatangkan sekian tentara pilihan dari bangsa mereka.

"Kamu yakin kita akan bisa melakukan misi ini?" pemimpin dari satu suku bertanduk menyuarakan keraguannya.

"Lalu kenapa kamu berpikir kita tidak bisa melakukannya?"jawab Sang pemimpin.

Sang pemimpin mondar-mandir mencari siasat, sedang angin yang berkali-kali berhembus dijawabnya bisu tanpa mengeluh sedikitpun tentang betapa dinginnya malam itu.


Plok..plok..

Dua kali tepukan tangan --ah, apa jari-jari panjang tak teratur dengan lendir yang terus menerus keluar dari sela-sela jari itu bisa disebuat sebagai tangan-- dari sang pemimpin memberikan isyarat kepada seluruh laskar yang melingkarinya bagaikan pusaran air itu untuk diam. Seketika kesunyian malam menyambut kebisuan mereka. Semua mata kini tertuju kearaha tengah dimana para pembesar dan --tentunya-- sang pemimpin berada. Tidak sesosokpun berbicara, semua sosok bergeming, kecuali satu sosok pembesar yang seperti tak bisa mengontrol ekor merahnya yang terus saja mengibas-kibas.

"Wahaaai.. Yang berkumpul untukku", suara membahana tanpa pantulan, terbebas dibawa angin mampir ke telinga seluruh mahkluk yang hadir disana

"Demi semua kejahatan dan kebencian yang menjadi bagian dari diri kita, aku perintahkan kalian untuk mendukungku"

Semua diam, sunyi, menunggu kata-kata berikutnya yang akan keluar

"Aku, dan semua pembesar kalian, telah sepakat untuk menjatuhkan.." nafasnya mendesah memberi jeda, membuat semua telinga makhluk disekitarnya bergerak-gerak kecil tak ingin salah menangkap getaran suara berikutnya.

"..Fulan!!!..", lanjutnya. Semua mulut terkatup rapat, sebagian membelalakkan mata, hingga terdengar sebuah jeritan dari sekian barisan perang yang menggulung. Keadaan kembali tak terkendali oleh riuh mereka, kecuali para pembesar yang terlihat tetap berwibawa. Para pasukan itu mengumpat, protes.

"Gila apa! itu namanya bunuh diri", seru sesosok dari para prajurit itu pada temannya

"Satu bacaan ta'awudz darinya saja mampu membakar satu kompi dari pasukan kita!", yang lain menguatkan. Teman dibelakangnya hanya mampu melirik kanan-kiri, berharap mendengar keoptimisan dari mulut para prajurit itu. Nihil.

"Aku menyesal kenapa dulu aku bergabung kedalam lingkaran ini"

"Menyesal itu bagian dari diri kita, kawan", kata yang lain mengingatkan.

Mata sang pemimpin membelalak melihat reaksi pasukannya yang ketakutan. Seperti membuang kemarahan itu pada tatapannya yang kemudian dialihkan kearah pembesar-pembesar didekatnya, memunculkan perasaan tak nyaman.


Rapat ditutup dengan keriuhan yang sama. Namun tidak menyurutkan dilaksanakannya misi kontradiktif malam itu. Semua telah dirancang. Bahkan lama sebelum sesosokpun dari mereka pernah memikirkannya.

"Aku pikir pemimpin kita sudah gila", bincang sosok pembesar bertanduk, sepanjang perjalanan pulang.

"Sssstt.. jangan sampai dia mendengar perkataanmu itu!", sosok tua diantara mereka ahirnya berbicara, dengan tetap fokuspada arah terbangnya.

"Apa kita akan menyia-siakan kekekalan yang kita miliki hanya untuk menyerang satu mahkluk bernama manusia itu?"

"Kesia-siaan kan juga bagian dari diri kita", kata yang lain. Terlihat dibelakangnya sederet pasukan yang membuntutinya.


***


Sebuah musik berdengung melapisi dinding, memenuhi seluruh ruangan yang ada, menggema melewati udara hingga bingar keluar, memanggil siapa saja yang melewati tempat itu untuk mampir. Namun tidak untuk Fulan. Dia masih tenang menikmati sajian hatinya yang terus berbicara tentang Tuhannya, tentang ketakutannya jika sampai membuat Tuhannya 'marah'.

"Bos, ini tidak mungkin", protes sesosok pasukan pada pembesarnya melihat keadaan Fulan yang setenang itu.

"Mungkin!", balas sang pembesar memotivasi.

Terlihat salah satu dari mereka melipat sayapnya, menjelma sebagai gadis cantik dengan perut terbuka memperlihatkan bentuk indah perutnya, mencoba menggoda Fulan. Lama sang pembesar memperhatikan dari atas angin, namun yang didapatinya adalah sebuah kegagalan. Sang pasukan kembali menghadap pembesarnya dan melaporkan tugas yang dipasrahkannya, mengira nasibnya habis hanya sampai disini.

"Kita kembali ke markas", sebuah keputusan diambil dan memberi kelegaan pada sang prajurit.


***


"Bodoh!! Semuanya gagal!! Seeeemuanya! Kenapa semuanya!", sang pemimpin marah besar. Taktik telah disusun, langkah sudah diambil tapi tak satupun kompi yang dikirim mampu menyelesaikan tugasnya.

"Aaaaaggghhh!!!" Raungan sang pemimpin menyapa seluruh pendengaran yang ada, mengirim amarah, membuat para pembesar tak berani mengangkat wajah mereka, meminta maaf.

"Saya sudah mengira bahwa misi ini tidak akan berhasil, tuan", sesosok dari mereka memberanikan diri berbicara. Dengusan yang keluar dari hidung sang pemimpin membuat yang lain memilih untuk tetap terdiam.

"Baiknya kita ganti saja target kita.."

"Tidak!!!", spontan sang pemimpin memotong usul yang baginya tak pantas diajukan.

"Berapa banyak waktu yang sudah kuhabiskan untuk semua ini", jubah kebesaran yang dikenakannya mengibas mengusir angin saat sang pemimpin berpaling. Musyawarah demi musyawarahpun berulang dilakukan.

"Kalian tahu? Prestige kita akan melejit naik kalau kita berhasil menyelesaikan misi ini. Dunia tidak akan lagi meremehkan keberadaan kita!"


***


Fulan diserang kebimbangan pada hatinya. Ahir-ahir ini dia merasa betapa sulit hatinya mencintai. Yang ada disekitarnya terlihat begitu memuakkan. Kata-kata manis, sapaan saat bertemu sesama, tawaran bantuan yang diikuti balas jasa, berbagi... Keihlasan? apa itu keihlasan? Dia kehilangan arti. Semua yang pernah diketahuinya tentang kebaikan menyublim! Perlahan-lahan, naluri yang memberitahunya bahwa dia telah mengetahui banyak hal membuatnya ragu, bagaimana kalau selama ini ternyata hal-hal yang membuatnya mengerti ternyata memanggil ketidakmengertian-ketidakmengertian yang lain. Fulan gundah, Fulan dalam ketidaktahuannya, Fulan ahirnya terjebak!


***


"Hahhahah..", suara sang pemimpin kembali membahana dalam majlis yang sama, sebuah tawa kemenangan!

"Good job", Pujinya entah pada siapa, hanya tatapan mata tanpa katup yang berputar menyapu para pembesar yang hadir.

"Kemana? Kemana sang pemilik ekor merah", tanyanya mengabsen

"Saya, tuanku", jawab Yang dicari.

"Licik! Kamu benar-benar licik!", pujinya. Dia membelai-belai dagunya membayangkan episode selanjutnya yang akan berlangsung. "Menyerang dari hati, sebuah ide yang sungguh licik", hatinya tak berhenti membenci.


***


Pening yang sedari tadi timbul tak juga pergi. Fulan kini hendak berjalan pulang, alkohol yang mengaliri darahnya menghilangkan ekuilibrium tubuhnya. Berulang kali permohonan maaf dimintakan pada Tuhannya, dalam keadaan sempoyongan. Tak pernah sekalipun terbersit dibenaknya melakukan hal terlarang itu. Padahal seteguk saja yang diminumnya, baginya telah merusakkan sebagian besar apa yang telah dia jaga selama ini. Bibirnya tak henti memohonkan belas dari Tuhan atas kekhilafannya. Dalam tatihnya, dia menabrak seorang gadis dengan sekeranjang jeruk ditangan kanannya, membuat isinya berhamburan keluar.

"Maaf.. maafkan saya. Saya yang salah", kini Fulan semakin merasa bersalah

"Tidak apa-apa tuanku. Biar saya saja", sang gadis mengambil semua yang tercecer, beranjak hendak pergi saat kemudian mendapati bahwa Fulan telah setengah sadar terjatuh dilengannya minta ditatih.

"Tuan.. Tuan kenapa?", suara lembut yang keluar dari gadis ayu dengan mata bulat besar mengerjap-kerjap indah yang barusan ditabraknya menyeret Fulan jauh ke alam yang tak dikenalnya. Hanya hitam putih, hanya ketidakjelasan, hanya suara gadis itu yang terus terdengar menyerang hatinya, membuatnya semakin mabuk dalam buaian.


Diatas angin sana, sesosok pembesar diikuti anak buahnya berbisik pada pembesar-pembesar lain yang turut memperhatikan kejadian dibumi sana, "Wanita itu jelmaan anak buahku", akunya bangga.


Malam berlalu dalam diam, pening yang Fulan rasakan semalam masih sedikit tertinggal. Dia belum benar-benar mampu membuka mata dengan kesadaran yang belum utuh ketika suara lembut yang tertangkap oleh telinganya adalah sebuah isakan. Berat, dia mencoba memanggil seluruh kesadarannya dan melihat kenyataan bahwa entah kapan dia telah berada diatas ranjang bersama gadis ayu pembawa jeruk yang kini mata besarnya basah oleh air mata.

"Saya..saya.. Tuanku telah..hiks..hiks", isakan tangis sang gadis membuat kata-katanya tak beraturan. Serupa kekacauan yang terjadi di'dunia' Fulan. Hatinya hancur, pikirannya kalut, mulutnya merutuk. Belum selesai permintaan maaf yang diminta pada Tuhannya untuk kejadian semalam atas khamr yang diteguknya. Dan kini...

"Aku...aku...". gagap Fulan tak percaya

"Iya.. hiks. Tuan semalam melakukannya.." Mata itu kini tak lagi tampak ayu, malah membengkak mengalirkan airmata yang sedari tadi tak berhenti menuruni pipinya yang putih.

"Dan tuan harus bertanggungjawab, tuan harus menikahi saya", masih terdengar isak tangis sang gadis. Keringat sebesar jagung merayapi pelipis Fulan. Kengerian atas dosanya, ketakutan atas semua ketidaksiapannya pada kesalahan-kesalahan yang tidak dilakukannya.

"Tap..tapi aku.. aku tidak melakukannya", bela Fulan pada dirinya

"Tuan melakukannya!", sang gadis menjerit putus asa

Entah darimana datangnya, siapa yang memberitahu dan siapa yang memberikan informasi, pintu kamar dimana Fulan dan gadis ayu itu berada didobrak paksa dan terbuka. Tampak seorang laki-laki dengan baju menjuntai ketanah menyeret debu dengan paksa agar ikut bersamanya, mendengus penuh amarah ditambah atribut menyeramkan ditangannya yang siap mengambil nyawa siapa saja membuat Fulan berpikir cepat untuk memprediksi siapa gerangan lelaki yang berdiri beberapa meter didepannya.

"Kau apakan Anakku!!!"

Dugaan Fulan benar! Lelaki itu adalah Ayah dari gadis yang semalam ditidurinya. Langkah sang Ayah cepat mendekati Fulan sambil mengayunkan gadanya, secepat otak Fulan yang mengatur siasat menghindari sabetan gada dan berlari meninggalkan tempat terkutuk itu. Gada meleset dari tubuh Fulan, ia berhasil berkelit. Tangannya menangkis gada, memelintir pergelangan tangan lawannya dan membuat serangan balik dengan mengarahkan gada pada arah yang berlawanan. Berhasil! Fulan berhasil memberikan perlawanan, ketika kemudian Fulan sadari bermili-mili darah keluar dari gada yang menancap tepat didada lawannya. Sang gadis menjerit mendramatisir suasana, menyuarakan kelemahannya. Semakin panik, Fulan benar-benar berlari keluar. Meninggalkan tanggungjawabnya, meninggalkan sosok yang ditusuknya, meninggalkan gadis yang tadinya begitu memikat hatinya.


***


Pesta kecil terjadi diatas langit. Gelombang pasukan yang berbaris menyanyikan kebahagiaan

"Aku tidak menyangka kita akan berjalan sejauh ini", sosok pembesar bertanduk berbisik pada temannya sesama pembesar.

"Beluuum! Kita bukan hanya akan berhenti sampai disini!" seringai sang pemimpin. Ambisinya begitu besar demi membuat dunia agar mengakui eksistensinya.

Mata tanpa katup miliknya menyiratkan dendam. Dendam pada Adam dan semua anak turunnya, siapapun!


***


Fulan terengah-engah mengambil nafas. Hampir seluruh tubuhnya terendam didalam tanah. Hanya kepalanya yang terlihat tersisa diatas permukaan tanah. Hidungnya begitu dekat dengan tanah, hingga semua yang dihirupnya adalah tanah, dan itu membuatnya semakin sulit bernafas.

"Benarkah lelaki ini yang telah menghamilimu dan membunuh ayahmu?", tanya seorang penduduk desa sambil menyeret seorang gadis untuk melihat siapa yang ditanam didepannya. Dengan kepiluan yang mengalir bersama airmatanya, sang gadispun mengangguk mengiyakan. Dan umpama sebuah komando, orang-orang yang telah ramai mengelilingi pun melempar batu yang telah dipersiapkan. Tak bisa bergerak, batu-batu itu telak merobek-robek kulit wajah Fulan. Membentur tengkorak kepalanya, menghantam syaraf-syaraf dikepalanya memunculnya rasa nyeri yang tak terperi. Mulutnya meringis menahan perih pada ujung bibirnya yang sobek oleh hantaman batu, entah siapa yang membuang batu itu. Tapi sang pelaku telah begitu geram dengan semua perbuatan yang dialkukan Fulan.

"Ternyata kamu lebih busuk dari kami!", umpat seorang penduduk sambil meludah didepan Fulan.

"Tangisanmu saat kau terjatuh dan tak sengaja mencabut seonggok rumput, adalah palsu!", tambah yang lain memprovokasi.

Hati Fulan merintih. Tak tahu apalagi yang harus dilakukan. Bagaimana dia membela diri jika semua penduduk telah melihat sendiri dengan mata mereka atas apa-apa yang telah dilakukan Fulan.

Matahari hendak beranjak pergi, meninggalkan Fulan ditemani darah yang tak henti mengucur. Orang-orang telah puas melampiaskan amarahnya dan kembali kerumahnya masing-masing, membawa cerita tentang betapa taatnya Fulan, dan bagaimana kini Fulan terjebak pada perbuatan setan. Debu yang telah banyak menyumbat hidung, perih yang melumuri kepala Fulan dan semua perasaan yang dideritanya memunculkan rasa haus pada tenggorokannya. Pasukan berduyun-duyun diatas sana memperlihatkan senyuman. Sang pemimpin bersiap turun menemui Fulan, "Sekaranglah waktunya", gumamnya.

Fulan memanggil-manggil Tuhannya, meminta belas dari Tuhannya dan masih meyakini bahwa dia hanya menyembah Tuhan yang telah menciptakannya beserta ujian-ujian yang beruntun diterimanya. Sebentuk mahkluk menjelma didepan mata Fulan. Sebuah jubah kebesaran tanpa kaki yang menjuntai, menantang andrenalin Fulan untuk menatap keatas dan melihat siapa didepannya.

Sebuah seringai menyambutnya, "Kamu haus? Kamu butuh air minum, bukan?", sang pemimpin tersenyum penuh kemenangan diikuti sorak sorai dari seluruh pengikutnya diatas angin sana.

Hati Fulan ingin terus bertahan dengan keadaannya saat ini, namun rasa hausnya terasa lebih menyiksa.

"Ini minuman untukmu tapi kamu harus menyembahku", sebuah tawaran tak menguntungkan dari sang pemimpin untuk Fulan. Kebimbangan menyerang, sebuah keputusan besar harus diambil

"Aku menyembah Tuhanku, dan bukan kamu!", teguh Fulan

"Dengan meminum air ini, kau akan tetap hidup dan itu bisa memberimu waktu untuk meminta ampun atas semua perbuatanmu". Seteko air dikucurkan didepan tubuh Fulan yang masih tertanam didalam tanah kecuali kepalanya itu, membuat Fulan menggerak-gerakkan mulutnya, berharap lidahnya yang terjulur akan menyentuh air yang terkucur segar itu. Fulan tak berpikir panjang, Fulan ceroboh, Fulan terlalu tergesa-gesa hingga ahirnya, "Baiklah.. baiklah..", Nafasnya terengah-engah, "Saksikanlah bahwa sejak saat ini, aku adalah hambamu, aku menyembahmu", Fulan memutuskan. Ia tundukkan pandangannya sebagai isyarat bahwa dia telah menghamba pada mahkluk didepannya, pada mahkluk selain Tuhannya.

Bumi menghembuskan angin membawa kesunyian, pun membawa nyawa Fulan menghadap Tuhan. Padahal belum lagi air segar itu dialirkan ke tenggorokan Fulan..


Seketika, teriakan riuh dari para pembesar berikut pasukannya memenuhi jagat, menandakan kemenangan akan pembuktian eksistensinya sebagai salah satu mahklukNya, sebagai musuh terbesar Adam, melarutkan tawa kebanggaan yang keluar dari mulut Ifrit yang berlendir, sang pemimpin.


***


"Tidur, sayang. Mungkin tidak saat ini, tapi suatu saat kamu pasti akan mengerti maksud dongeng ini..."





Barsesha, terimakasih


Sabtu, 15 November 2008

...Allah Knows...

Ngedengerin lagu Zain Bikha "Allah Knows" akan selalu membawa kita pada banyak rasa yang mengisi hati. Syair dalam lagu tersebut gak panjang-panjang amat, tapi emang sedikit syair yg dibaca berulang2. Model syairnya kayak punyanya Daniel Bedingfield yang "if you're not the one" itu, yg jg lagu faforitku, dengan sedikit pengulangan pada syairnya.
Tiap kali lagi ngeras sendirian, akan lbh enak ngedengerin lagu "Allah knows" ini. Kerennya, kesan bahwa Allah emang ADA, lbh dr itu, bahwa Allah memang TAU dan MENGERTI ttg kita, berasa banget dr lagu ini. Gi ngerasa bersalah, gi ngerasa jd "korban", gi ngerasa bahagia banget krn cinta, gi ngerasa beruntung krn diberi izin utk hidup dan memiliki byk sahabat yg mencintai kita, gi ngerasa dipojokkan oleh hidup, ato gi ngerasa "g punya rasa" bakalan enjoy aja ngedengrin lagu ini.
Seolah memberi banyak dukungan, mendatangkan intuisi de el el. Kita dah berusaha jauh2 dateng demi sebuah janji, ternyata yg ngajakin janjian malah g dateng! tenang, "Allah knows" kok dgn usaha kita yang telah ngebela-belain g nonton film bagus demi menepati janji tersebut. Ato gi enak-enak chatting, tiba-tiba ada ID temen sendiri yang ternyata memandangmu sebagai seorang yang hina dengan segala caci-makinya yang tiba-tiba. "Allah knows" kok klo tuduhan itu gak seperti apa yg dia ucapkan. "Allah knows" kenapa kamu melakukan apa yg udah kamu lakukan, yang pastinya kamu punya alasan melakukannya. Ato, pagi-pagi, semua orang serumah bangun bareng-bareng. Sempet becanda-becanda juga. Ada salah seorang yang buru-buru musti masuk kerja, meski udah telat, dan cuma sempet bikin sarapan -mie telor- buat dia sendiri. Sedangkan yg lain? begitu tau minimnya bahan makanan di kulkas plus blum ada nasi mateng malah kembali ke kamar masing-masing dan "nunggu". And "Allah knows" kenapa kamu yang musti ngalah, muter otak buat mengolah bahan masakan yg cuma segitunya. Dan saat masakan plus nasi dah mateng, entah siapa yang ngasih tau, orang serumah keluar semua dan tanpa ngerasa bersalah krn gak membantumu atau sekedar BASA-BASI ngebantu, dengan tenangnya melahap brunch itu. "Allah knows" kenapa kamu masih bertahan, padahal sebenernya kamu nggak lebih nganggur dari mereka. Next, kamu musti cabut ke tempat tugas. Dan sesampainya disana, kamu kena marah karena kamu telat. Mereka cuma gak tau bahwa kamu telat krn musti nyiapin sarapan orang2 rumah tadi, semalem jg sbenernya kamu cape ngurus tugas kuliah, dan itu semua cuma Allah yang TAU :)


"When U feel all alone in this world
And there's no body to count your tears
Just remember, no matter where U're
Allah knows
Allah knows..."

Sudah

...
...
...
...
...
Aku menangis
Sudah
Aku ditawari pelukan
Sudah
Aku ditenangkan
Sudah
Tapi seolah masih mencari
Aku, yang masih saja meminta
Ternyata aku
Tak semengerti seharusnya
-Semoga hanya belum-

Rabu, 15 Oktober 2008

On time

Pyuuuuh..



"Harus berapa lama

Aku menunggumu

Aku menunggumu..."


Kalau Chrisye menyanyikannya feat. Peter Pan tuh buat nungguin yayang, klo aku dsini nungguin temen2 yanng janjian mau kumpul rapat panitiaaaaaaaa... Rasanya udah mau nangis aja. Aku menunggu dan selalu menunggu. Tapi kenapa gak datang2 jua yha? Padahal ini bukan yg pertama kali lho. Tapi, KBETULAN aja, yang diajak meeting tuh mendadak g bs dateng. PAdahal pas di telponin pada nyanggupin buat dateng. Untuk beberapa acara yg laen jd terganggu juga deh. Bayangin aja nih ya, misalnya kita ditelpon diajak meeting memusyawarahkan sesuatu. Kitanya meng"iya"kan. Trus abis tuh, something happen ato tiba-tiba aja kamu kehilangan mood buat meeting. Mending kalo masih mau menghubungi temen yang ngajak kita meeting itu, minta izin dan ngasih apologi knp gak bisa dateng. Lha kalo enggak? kebayang dong gimana merananya si temen yang nunggu itu tadi. In one case, seumpama nih ya, kita janjian kumpul ber-5 doang aja(komunitas yg kecil, bukan?) Kalian tuh tinggal dirumah yg berbeda dan "dunia" yang berbeda juga. Satu dari kalian tuh anak rumahan, bakal keluar rumah kalo beneran ada perlu doang. Satunya lagi aktifis abis yang musti memetakan waktunya dalam sebuah list. Satunya lagi orangnya suka agak ngeremehin pentingnya "waktu". Satu lagi orangnya baek hati, pemaaf dan suka menolong teman(halah). Trus yang terahir nih orangnnya disiplin banget dengan jadwal yg udah ditentuin. Suatu hari, ber-5 kebetulan jadi pengurus disebuah kepanitiaan. Sang Ketua memutuskan untuk meeting proker hari Rabu jam 14.00 siang sepulang kuliah. Emang sih, alhamdulillah semua bilang kalo bisa dateng pas meeting itu. Tapi apa? udah dua jam si Ketua nunggu di tempat yg udah disepakati ternyata gak ada yg dateng!!! Dengan berat hati, si Ketua pun musti nge-cancel acara hari itu. Beralih ke hari berikutnya, si Ketua panitia pun boleh tersenyum lega karena 3 dari 5 orang yg dia undang itu dateng pas meeting. Nah, tinggal nungguin anak yg agak ngeremehin waktu itu tadi, sampe molor setengah jam. Tau gak apa jawaban dia pas ditelepon ma Ketuanya? "Sori, aku lagi mau siap-siap mandi nih". Hwaduh!!!! seeenaknya banget tuh orang. Sedangkan disebuah pojok diruang meeting, anak yg disiplin dengan waktunya tuh udah beberapa kali terlihat melirik jamnya, siap-siap utk acara berikutnya. Si anak rumahan? dia udah mulai boring dah seolah-olah terbaca dari wajahnya, "aku gak bakal keluar rumah lagi demi meeting yang sia-sia ini!!!". Hiks.. kasian amat Ketuanya yang cuma bisa pasrah, "Yah, namanya jg perbedaan".


Tapi apakah cerita itu berahir sampai segitu aja? Gimana kalo kita terusin ceritanya. Seandainya aja, si temen yg suka ngeremehin waktu itu mau sedikit ngerti, pasti si anak rumahan gak perlu ngegerundel gitu. Temen yg disiplin tadi juga gak mesti bingung-bingung menjadwal kembali apa yang sudah dia tulis. Bagi temen yang baek hati sih fine-fine aja, soalnya hatinya yang seluas samudera itu dengan legowo sekali menerima 'kotoran' dan 'sampah' yang dibawa oleh sungai yang bermuara padanya. So, sebenernya yang salah tuh temen yang suka ngeremehin waktu tadi yha! Uuumm.. gak sepenuhnya juga sih. Toh, dia juga bisa ngedapetin positive effect dari apa yang terjadi; meeting bisa terlaksana, dia pun bisa jadi ngerti posisi dia dan "apa yg harus dia lakukan" di kepanitiaan tersebut. Semua effect itu baliknya ke diri dia sendiri juga to? Sang Ketua juga jadi bisa tersenyum lega penuh percaya diri atas suksesnya acara yang bakal dia laksanakan. Eits, siapa tau juga kalo ternyata aslinya Sang Ketua gak se-PD itu untuk menghandle acara yg diamanahkan ke dia. Katakanlah, si Ketua itu 'penakut' dengan kenyataan yang harus dia jalani dengan amanah yang dilimpahkan kepadanya. Bukan gak mungkin juga, pengurus di bawah dia juga 'penakut', ngerasa kurang PD dan gak pantes kalo diberi amanah untuk menjabat suatu jabatan. One thing that we have to bear in mind adalah; satu orang penakut + satu orang penakut = 2 orang pemberani. Keberadaan kita adalah untuk melengkapi yang lain. Gitchuuu...


Betewe, ngomongin tentang solidaritas untuk menghormati orang lain, dalam hal ini kita sedang ngomongin gimana kita bisa on time kalo janjian ma seseorang, dibelakangku saat ini gi ada technical meeting untuk sebuah acara yang akan dihelat seminggu lagi. Guess what??? ternyata yang dateng "on time" tuh mbak-mbak yang bercadar dan ukhti-ukhti. Iiiih, ngomong apa sih O' kok jadi sensi gitu dan ngebeda-bedain antara ukhti2, mbak2 bercadar dan "yang bukan keduanya". Yah... niatannya bukan gitu sih. Maksudku, gimana kalo misalnya ada mbak2 muslimah gaul, smarty, trus "on time" pula! Wuuuihhh pasti tambah gemmesss deh. Biar gak ada perbedaan gitu... Jangan sampe ntar muncul image kalo "yang bisa on-time tuh ukhti2 doang", "alah... mbak2 gaul gitu pasti suka nelat kalo janjian". Nah lho!!


Anyway, dah pernah baca "Jangan jadi Muslimah Nyebelin" punya-nya mbak Asma Nadia gak? Seru juga loh baca buku itu(mulai deh, promosi!). Yah, tanpa berniat yang enggak-enggak,
setidaknya pengetahuan yang bermanfaat itu kan perlu disebar-sebarin. Demi sebuah perubahan general pada sebuah lingkup, perlu mengadakan perubahan secara parsial dulu kan?


Minggu, 31 Agustus 2008

Mohon kembalikan rasa itu...

Aku selalu menikmati rasa itu
Rasa yang membuatku selalu merasaiMu



Aku selalu menanti rasa itu
Rasa yang membawaku pada nyaman pelukMu



Aku selalu mengerti bahwa rasa itu milikMu dan Engkau boleh mengambilnya kapan saja. Tapi Allah, bolehkah aku memintamu untuk mengembalikan rasa itu? banyak hal sudah yang tak kumengerti. Banyak dosa sudah yang kujalani. Banyak tanya sudah yang kurenungi.



Allah, Ramdlanmu telah lagi datang. Terasa begitu mendadak dan tiba-tiba. Saat aku mengetahui bahwa titik nadir itu telah berlalu tanpa sebuah kelebih-baikan yang ku cita-citakan, dimana semua warna pelangi berubah kelam, bahkan wujudnya pun telah menguap meninggalkan bumi. Kemana saja aku? Aku tidak sedang berada pada sebuah dunia tanpa peradaban, tapi riuh Ramadlanmu tak terdengar telingaku. Hidungku mampu menghirup udaramu pada tiap detik detak jantungku, tapi aku tak lagi membaui harum Ramadlanmu, Tuhan...

Hinakah aku jika tak lagi mampu meneteskan air mata demi menyesali semuanya? Aku tidak perlu perlu menangis demi bertemu denganMu, bukan? Karena Engkau selalu ada kapanpun, berubah seperti apapun aku, bercerita tentang apapun aku, Engkau masih akan tetap mendengarkanku dan mereka...

Allah, mohon kembalikan rasa itu...