Senin, 10 Maret 2008

Bincang Bulan

"Laila? apa kabar hari ini?" suara yang begitu kukenal menyapa dari belakang punggungku. Sebenarnya pemandangan didepanku mencegahku berpaling. Namun aku tak mau menuruti egoku dengan mengacuhkan seseorang yang telah sudi menyapaku.
Aku pun membalikan badanku dan menjawab sapanya, "Hei... apa kabar? iya, alhamdulillah aku baik-baik saja" kataku sembari melontarkan pertanyaan yang sama untuknya yang ternyata hanya terjawab oleh sebentuk senyum. Beberapa jenak mata kami yang berinteraksi. Namun dari yang sebentar itu aku bisa memahami bahwa tampaknya dia tidak mengenalku.
"Maaf, apakah kita saling kenal?"tanyaku
"Eh? tentu saja aku mengenalmu" jawabnya yakin. Dan itu juga meyakinkanku bahwa dia tidak mengenaliku. Yah, dia tidak benar-benar mengenaliku kali ini.
Pertemuan kali ini bukanlah kali pertama. Pun tentunya, ini bukan pertemuan privaci hanya antara aku dan dia karena memang tidak ada kepastian yang terjalin antara kami berdua. Bagiku, hanya disaa-saat berkumpul untuk kepentingan bersama seperti inilah yang kunikmati sebagai kesempatan untuk bertemu dengannya. Dan sebagai perempuan, aku bisa merasakan bahwa dia juga memanfaatkan momen yang sama sepertiku. Atau, sebenarnya aku yang agak sok tahu?
Berlalunya perbincangan, obrolan dari mulai yang serius sampai pada majlis yang hanya dipenuhi gelak tawa, tak juga membuatnya mampu mengenaliku dengan baik. Bahwa yang saat ini duduk bersandar pada tembok yang terasa dingin saat musim panas dimulai ini adalah bukan aku. Sebenarnya aku ingin sekali memberi tahunya bahwa yang didepannya saat ini bukanlah aku. Aku ingin dia yang membawaku kembali pada "aku". Namun suara lain dalam otakku membisikiku untuk diam saja dan menunggu. Berharap, dia akan menyadari ketidak-beradaanku dan kemudian membawa "aku" yang lalu, untuk kembali padaku. Bodohnya, aku begitu mempercayai otakku dan toh hingga ahir pertemuan dia masih saja tidak mengenali, bahwa aku kali ini bukanlah aku. Cuaca diluar ternyata tak seperti dugaanku waktu pertama keluar dari rumahku tadi. Angin yang berbondong-bondong keluar dimalam hari, mencipta dingin dalam kebisuan lisanku.
"Cie... yang lagi mesra..." ledek mereka yang sok mengenal kami. Mereka yang meninggalkan kami berdua saja. Pun begitu, ia tetap tak mengenaliku, bahwa aku bukanlah aku. Sepiku atas hatiku dibumbui oleh ricauan malam dengan gemuruh anginnya.
"Wahai yang mengingkari dirinya, kamu kenapa?" Tiba-tiba Bulan menyapaku
"Er.. maksudmu?" kataku heran pada Bulan yang tiba-tiba berada tepat disampingku, entah sejak kapan. Terlebih, karena sapaannya barusan. Biasanya dia langsung memanggil namaku.
Bulan kemudian tersenyum, "Semua orang boleh tak mengenalimu. Tapi mencoba membohongiku? ckckckck..." katanya sambil menggoyangkan jari telunjuknya padaku didepan wajahnya yang indah.
Aku sudah mencapai halte bus dan Bulan masih saja bersamaku. Aku sebenarnya tidak tahu topik apa yang harusnya aku bicarakan. Meski hati mendesakku untuk bercerita banyak hal pada Bulan, tapi mulutku bungkam saja. Agak lama aku menunggu bus yang akan membawaku kembali kerumahku. Namun terkaget saat memperhatikan Bulan yang tiba-tiba menghilang. Sejenak muncul, namun kemudian meredup kembali. Heranku memancingku untuk memastikan keberadaanya.
"Bulan..." panggilku.
"Ya" jawabnya setelah benar-benar menampakkan cahayanya. Sepertiku, malam ini Bulan seakan-akan bukan seperti Bulan yang kukenal. Tapi yang aku tahu, Bulan tetap bisa menjadi dirinya sendiri. Dan itu tidak terjadi padaku. Bulan tiba-tiba kembali menghilang. Entah tertutup awan, entah gerhana.
"Bulan..." panggilku lagi memastikan.
Bus yang kutunggu tiba-tiba datang. Aku menoleh pada Bulan hendak berpamitan. Namun Sang waktu menarik tanganku untuk masuk kedalam bus dan mengacuhkan Bulan. Sepanjang perjalanan, aku terus melirik langit dan menanyakan keberadaan Bulan. Apakah ia sekedar tertutup awan atau benar-benar gerhana? gurat kekecewaan yang terlukis oleh langit atas sikapku yang meninggalkan Bulan begitu saja, menjadi jawaban. Aku semakin kecewa pada diriku sendiri. Ternyata, keahlianku untuk menyakiti tak hanya mampu melukai manusia saja. Bahkan Bulan sekalipun terluka olehku.
Benar saja, saat turun dari bus, tak tampak lagi olehku keberadaan Bulan. Bahkan saat aku melongok kearah bangunan-bangunan menjulang penuh jendela diseberang sana, tetap saja tak kulihat keberadaan Bulan. Aku semakin bersalah pada Bulan.
"Bulan, apakah kau sedang tertutup awan atau benar-benar gerhana?"

Rabu, 27 Februari 2008

Hal-hal Baru

***Semakin aku mencoba memahami, semakin aku paham bahwa aku tak paham***

Besok, aku punya tugas untuk presentasi ttg resensi buku al-itqon. Dan hingga saat ini I do nothing. Aku tahu, aku sedikit keterlaluan kali ini. Tapi aku tak mau terus berdiam dalam "keegoanku" karena Allah baru saja memberiku sesuatu yang baru. Ceritanya, sore tadi aku masih belum punya inspirasi dari mana memulai tulisan resensiku. Acara kajian tafsir besok terasa sedikit mengusikku kini setelah beberapa kali ganti jadwal. Tadinya acara ini harusnya dilaksanakan tanggal 21 tapi kebetulan bertepatan dengan hari pertama "english camp" ditempat lain yang mana aku terlibat didalamnya. Bersyukur karena kemudian aku dapat berita bahwa "kajian tafsir" diundur tgl 27 nanti. Tapi baru kemudian kusadarai bahwa hari itu merupakan hari terahir "english camp" dan mestinya aku ikut hadir diacara itu untuk farewell party. Tapi tampaknya aku harus memilih. Dan kuputuskan untuk memilih ikut kajian tafsir karena keberadaanku disana lebih penting dibanding kehadiranku untuk farewell party di "english camp" (semua ini CUMA menurutku lho.. ~_^) . Rencananya, tanggal 26 aku bermaksud memulai untuk membuat tulisan resensi buku. Tapi kemudian panitia kajian tafsir memberitahuku bahwa acaranya diundur tgl 28. Sedikit kelegaan menghampiri. Artinya hari ini aku bisa maksimal konsentrasi ke "english camp" dan mempersiapkan soal-soal ujian untuk farewell party sekaligus ujian terahir peserta "english camp" tgl 27 nanti. Tapi, guess what? ternyata tanggal 28 ada kumpul ma temen-temen "cangkruk-an"!!! pusing aku memberi alasan untuk besok. Padahal pas musyawarah ma temen-temen cangkruk-an kemarin aku menolak untuk "cangkruk-an" pada tgl 27 karena overlapping dengan acara kajian tafsir. Tapi sekarang? entah alasan apa yang besok akan kuberikan. Sedangkan dr panitia kajian begitu mendadak sekali menyusun semuanya. Dan aku disini? terhimpit oleh perencanaan-perencanaan, jadwal-jadwalku sendiri.
Dan saat aku sudah penat dengan semua bentuk "hiburan" yang kuciptakan sendiri untuk menghibur hatiku, tiba-tiba Allah mencipta sebentuk skenario dramaNya. Kebetulan, waktu itu ada teman yang memintaku menemaninya belanja disalah satu pasar suvenir di Mesir. Sebenarnya g ada yang spesial dengan pasar itu dan aku udah berkali-kali kesana. Tapi, daripada terus berkutat dengan penat yang nggak tau kapan selesainya, ku iya-kan saja tawarannya. Berharap hal itu akan membantu memanggil inspirasiku -nggak ada yang tahu darimana munculnya sebentuk inspirasi ^v^-
Benar saja, hari ini Allah memberitahuku hal-hal baru lewat temanku itu tadi. Aku mengunjungi tempat disalah satu pojok pasar suvenir tadi, yang aku yakin sangat sedikit sekali teman sesama Indonesia di Mesir sini yang pernah kesana. Atau mungkin belum pernah sama sekali. karena tempat itu tertutup toko-toko penjual korden, alih-alih berada ditempat yang nggak keliatan deh pokoknya :P -it's a secret. Aku g boleh bilang-bilang ke orang laen-. Pulangnya, kita naek taksi yang bisa diisi 8 orang!!! hihihii.. gitu deh, jadi taksi-taksi dimesir tuh emang lucu gitu. G heran, kadang kita sering nemuin taksi yang g mau nganter kemana tujuan kita meskipun itu sebenarnya jadi arah tujuan dia juga Seakan-akan mereka tuh nyupir semau mereka. Kalau lagi pengen ya nganterin penumpang, kalo lagi g pengen ya ditinggalin gitu aja tuh penumpang. Cape deeeeeeh... atau kadang satu taksi bisa mengangkut dua penumpang berbeda, selama kedua penumpang itu menuju arah yang sama. Tentunya Sisupir taksi itu berani ngangkut penumpang kedua setelah mendapat persetujuan penumpang pertama. Kira-kira seperti itulah prediksiku. Nah, husus disekitar pasar suvenir yang tak ceritain itu tadi, ada taksi (bentuk mobilnya tuh kayak sedan panjang gitu) yang bisa muat 8 penumpang sekaligus. Berhubung tuh pasar suvenir agak sedikit jauh dari jalan raya, biasanya taksi jenis ini tuh untuk transportasi jarak dekat doang. Cuma nganter penumpang sampe jalan raya aja, ato nganter ke zekitar-zekitar zitulah. Selama ini sih biasanya aku ada urusan didaerah yang agak jauh dari pasar suvenir itu. Jadi selama ini cuma liat doang ke taksi-taksi bermuatan 8 penumpang itu. Tapi sore tadi, karena persetujuanku untuk nganter temen, aku jadi bisa ngerasain naik tuh taksi deh!! ^v^
Aneh, dan sedikit lucu kalo dirasa-rasa. Masak naik yang namanya "taksi" tapi disitu ada banyak orang-orang asing yang satu taksi ma kita. And know what? ternyata tuh taksi ngelewatin jalur-jalur yang jarang dilewati mobil-mobil lain, ngelewatin kuburan!!! hihihii.. aneh, serem, seru, lucu. Belum berhenti sampai disitu skenario Allah, lewat temen yang nagjakin aku tadi, Allah ngasih tahu aku warung makan turki yang uuuuenak banget. Mana kunjungan pertama kesana aku ditraktir ma temen yang ngajakin aku tadi, lagi! huhuuuuuy.. seru, nyenengin, bikin fresh!
Dan untuk Allah yang udah bikin episode seru selama beberapa jam ini, aku nggak akan menyia-nyiakannya. Now, it's time for me to do my duty for tomorrow. Makasih Allah untuk kejutan dan semua hal-hal baru yang hamba dapat hari ini. Hanya Engkau yang selalu Tahu bagaimana membuatku kembali tersenyum, bagaimana membawa kembali bahagia agar muncul dari hati.

^v^

Kamis, 21 Februari 2008

Mungkin kau tak tahu

Sering, dalam tiap perjalanan yang kutempuh, aku ngerasa bosan dengan semua. Merasa terlelah dengan perjalanan. Meski perjalanan itu kadang aku sendiri yang memilih arahnya. Tapi disaat semua saraf mulai meredup untuk mampu merasai apa yang terjadi, Allah selalu menghadirkan nafas baru lewat siapa saja yang dipilihNya. Seperti saat ini, keinginan untuk menulis yang dahulu kobaran nyalanya mampu menerangi pemandangan hidup beberapa meter didepan sana, kini mulai meredup. Tapi disaat semua rasa ingin meninggalkanku dalam perjalanan ini, datang seseorang yang mengatakan bahwa ia suka sekali membaca tulisanku. Terlepas dari kebenaran atau hanya sebuah basa-basi atas apa yang dikatakannya, seseorang itu tidak pernah tau bahwa sedikit saja kalimat darinya mampu memanggil kembali semua rasa yang sempat hendak mengacuhkanku.


Dan kamu, kamu nggak akan pernah tau, kapan kamu menjadi inspirasi bagi orang lain.
Dan kamu, nggak akan pernah tau, bagaimana kata-kata yang baik yang keluar dari bibirmu memberi satu nyawa baru pada kehidupan seseorang.


^.^