Suara gemerincing kunci-kunci yang saling berbenturan, mengisyaratkan siapa yang datang
"Kak Alin...", sapaku begitu segurat wajah muncul setelah pintu terbuka. Benar dugaanku. Cuma kak Alin yang punya kunci segitu banyaknya, entah kunci apa saja, yang digabung pada satu gantungan kunci. Dia menjawabku dengan senyuman khas miliknya. Sebuah senyuman tulus. Ia tampak sedikit repot mengatur kantong belanja yg memenuhi genggamannya saat hendak melepas sepatunya. Aku berdiri membantunya membawakan kantong-kantong itu masuk kedalam rumah. Kebetulan aku sendirian diruang tengah. Yang lain sedang bertapa didalam kamarnya masing-masing. Entah melakukan apa saja.
"Abis belanja ya kak"
"Iya tuh. Tadi, mampir ke supermarket bentar. Aku jg tadi abis mampir restoran Indo, trus beli empek-empek buat kalian". Ceritanya.
Fitri tampak keluar dari kamarnya. Hanya menoleh sebentar kemudian berlalu begitu saja. Dia buru-buru ke kamar mandi, tampaknya. Kak Alin menyandarkan punggungnya diatas kursi ruang tengah, lelah. Aku kembali pada kesibukanku tadi, nonton TV.
"Lho Rin, dibuka lho empek-empeknya. Itu kan buat kalian". Aku nyengir gak ihlas. Karna sebenarnya aku gak begitu doyan empek-empek. Bukan apa-apa, tapi mungkin karna aku tidak benar-benar pernah mencoba merasakan makanan itu.
Kak Alin menawarkan kembali untuk menyantap empek-empek yang sengaja dibawanya untuk kami. "Tolong dong, klo gak keberatan, panggil juga Fitri dan teh Jaja ya". Begitulah kak Alin, tutur bahasanya halus sekali. Aku suka.
Akupun beranjak memanggil semua anggota flat kami untuk makan empek-empek bareng. Empek-empek ditaruh pada mangkok besar. Lalu kuahnya dituangkan diatasnya. Sendokpun sudah pada mangkok masing-masing kami.
"Hwaaa.. Empek-empek...", ucap teh Jaja, lebih pada kalimat, "selamat makan...", begitu kira-kira. Kulihat semua orang, kecuali aku, langsung menyendok secuil empek-empek lalu menambahkan kuahnya dalam satu suapan. Aku yang tak pernah benar-benar disuguhi empek-empekpun sudah mulai tergoda dengan bau khas dari kuahnya. Membuat selera makanku langsung bergeliat muncul. Aku melakukan hal yang sama seperti yang lain. Dan saat indra perasaku bekerja mencicipi rasanya.. wuiiihh aku langsung bertekad, "kapan-kapan aku harus beli empek-empek lagi sendiri", padahal yang didepanku saja belum lagi habis. Manusia serakah sepertiku ini masih saja ada ya. Aku menggeleng-geleng sendiri dalam diamku sambil menikmati empek-empek itu.
"Waaah.. kak Alin gi dapat rizqi banyak yha", sekarang Fitri yang urun suara.
"Nggak banyak kok. Tapi, cukuplah untuk beliin kalian ini", jawab kak Alin sambil menunjuk semangkok empek-empek didepannya dengan dagunya. Teh Jaja menelan isi didalam mulutnya hendak ikut bersuara,
"Lha kalo bisa ngebeliin kita empek-empek gini ya lumayan lah rizqinya. Sering-sering aja Lin, heheheh..", gurauan teh Jaja disambut gelak yang lain.
Kak Alin mengusap bibirnya dengan tissue, kemudian menjawab,
"Alhamdulillah, Teh. Teteh inget g? Beberapa minggu yang lalu Alin dapet job gedhe. Honornya aja 10kali lipat dari yang Alin dapat sekarang ini. Tapi ya gitu deh, gak tau gimana, duitnya udah abissss aja. Nah sekarang Alin dimintain tolong kecil-kecilan. Gak taunya dapet bonus nih". kak Alin nyengir.
Ia meletakkan mangkoknya yang menyisa sedikit kuah didalamnya. Sedang empek-empek dan mie yang jadi campurannya, habis tak tersisa.
"Ternyata duit banyak itu gak menjamin kebahagiaan yha", kata kak Alin tiba-tiba. "Buktinya, sore ini aku bener-bener ngerasa legaaa banget bisa nraktir kalian, meski cuma empek-empek. Tapi pokoknya seneng. Karena aku bisa berbagi kebahagiaan yang kurasakan, pada orang lain. Sedangkan dulu pas duitku banyak, aku gak bisa beli apa-apa buat kalian. Bahkan rasanya, kebutuhanku sendiri belum sepenuhnya bisa terpenuhi dengan uang sebabyak itu". Ia menaikkan kedua bahunya, tak mengerti. Lalu disambut senyum "mengerti" dari Fitri dan teh Jaja. Sedang aku sendiri cuma manggut-manggut dan menyuapkan satu sendok terahir empek-empekku.
"Kayaknya beli empek-empeknya kapan-kapan aja deh. Satu ini aja udah kenyang banget", gumamku, kemudian membaca hamdalah memungkasi acara makanku.
Mengilhami dingin angin yang mengusap lelah, memeluk hujan, berbisik pada bintang, bercerita...
Selasa, 09 Juni 2009
Jumat, 15 Mei 2009
Wajahku Hatiku
Once upon a time, aku dan Miella bersepakat untuk berniat mendownload soundtrack film "Perempuan Berkalung Sorban" yang dinyanyikan Siti Nur Haliza itu dari Youtube. Tak henti-hentinya kami bersepakat pula membahas segenap kecantikan Sang penyanyi. Kecantikan wajahnya. Kecantikan Suaranya. Kecantikan hatinya.
"Tapi sayang ya dia gak pake jilbab." celetuk Miella
"Eh, meski gak pake jilbab, tapi aku g pernah lho melihat dia pakai pakaian mini atau yang aneh-aneh. Pakaiannya selalu sopan. Modis lagi." Miella meneruskan sendiri pembicaraannya. Aku tersenyum. Iri.
"Haaahh.. Beruntungnyaaa..," kini aku yang melontar komentar.
"Eits, tenang Kak. Kita juga bisa kok jadi secantik dia", Miella.
"Apanya? Kalau kecantikan hati sih mungkin masih bisa dibentuk. Nah kalau kecantikan dhahir? Menurutku, g mungkin dong aku ganti wajahku dengan wajah orang lain yang cantik. Tapi kalau ngebenerin kecantikan hati sih masih memungkinkan."
"Eh, kata siapa kakak jelek? Kakak tuh manis lhoo. Kak Nirel juga bilang gitu kok."
"Whatever.. Yang pasti aku ngaca selama 21 tahun dan aku gak seperti apa yang kamu bilang. Jadi, yang masih mungkin dibentuk adalah hatiku. Biar menjadi cantik. Sayangnya, hatiku pun sudah terlanjur busuk! Sial".
"..."
"Tapi sayang ya dia gak pake jilbab." celetuk Miella
"Eh, meski gak pake jilbab, tapi aku g pernah lho melihat dia pakai pakaian mini atau yang aneh-aneh. Pakaiannya selalu sopan. Modis lagi." Miella meneruskan sendiri pembicaraannya. Aku tersenyum. Iri.
"Haaahh.. Beruntungnyaaa..," kini aku yang melontar komentar.
"Eits, tenang Kak. Kita juga bisa kok jadi secantik dia", Miella.
"Apanya? Kalau kecantikan hati sih mungkin masih bisa dibentuk. Nah kalau kecantikan dhahir? Menurutku, g mungkin dong aku ganti wajahku dengan wajah orang lain yang cantik. Tapi kalau ngebenerin kecantikan hati sih masih memungkinkan."
"Eh, kata siapa kakak jelek? Kakak tuh manis lhoo. Kak Nirel juga bilang gitu kok."
"Whatever.. Yang pasti aku ngaca selama 21 tahun dan aku gak seperti apa yang kamu bilang. Jadi, yang masih mungkin dibentuk adalah hatiku. Biar menjadi cantik. Sayangnya, hatiku pun sudah terlanjur busuk! Sial".
"..."
Selasa, 12 Mei 2009
Untuk siapa??
Beberapa hari yang lalu aku dapet offline dari beberapa teman dengan isi yang sama. Sebuah kata-kata bijak dari salah satu tokoh dunia. Aku lupa gimana tepatnya kalimat itu tersusun. Tapi intinya, "hiduplah kita dengan sepenuh hati. Dengan perasaan ihlas menjalaninya. Berikanlah yang terbaik untuk hidupmu dan untuk orang lain. Dan berikan sebanyak-banyaknya. Perlakukan orang lain, seperti kau ingin dipelakukan oleh orang lain".
Bagus ya kalimatnya. Bener tuh yang dikatakan, "Berikan yang terbaik dan yang sebanyak-banyaknya untuk kehidupan kita dan untuk orang lain". Biasanya, tanpa kita sadari, kita tuh sering lho menuntut banyak dari orang lain dan dari kehidupan kita. Padahal kita pun sebenarnya belum memberikan banyak. Kalau mau mencerna lebih dalam, kehidupan ini layaknya sebuah kaca benggala. Ketika kita tersenyum pada kehidupan, maka hidup juga akan tersenyum balik pada kita. Iya to?
Coba inget-inget, Pernah nggak mengalami masa dimana kamu tuh bete banget. Abis itu semua orang kena marah dari kamu, kamu cuekin, kamu gi males untuk care ma temen sekost-an ato temen kelas dll. Trus apa yg kamu dpt? pasti mereka juga jd jutek kan ke kamu, jd gak care ama kamu dan itu malah semakin memperburuk kondisimu yang lagi bete. Misalnya aja kamu pas bete gitu, hirup udara segar diluar sana dalam-dalam. Hirup, nikmati, syukuri. Lalu hembuskan nafasmu perlahan. Ulangi beberapa kali. InsyaAllah akan mengurasi beban yang rasanya nyeseg di dada. Nah kalo gi ngerasa bete dirumah, ya keluar aja bentar. Nyari suasana baru. Kalo dah ktemu temen diluar sana, dan kamu datang dengan senyuman, mereka pun akan menyambutmu dengan senyum yang sama. Alih-alih, mereka memberikan hiburan dan kegembiraan yang saat itu gak kamu dapetin dirumah dan menghapuskan dukamu.
Tapi inget, keluar rumahnya jangan lama-lama, apalagi sampe niat untuk gak balik pulang. Dunia yang bulat ini berputar kok. Dunia yang kecil ini juga bakalan fana, rusak, g abadi. Tangis dan tawa itu tak akan selamanya. Bisa jadi, suatu saat dunia baru menyenangkan yang baru-baru ini kamu temukan juga akan memberikan luka untukmu.
So, hiduplah dimana saja, kapan saja, berikan yang terbaik, sebanyak-banyaknya.
Aniwei, dari kalimat yang panjang lebar diatas tadi, kalimat terahir aku gak setuju. Kenapa kita harus memperlakukan orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain? Kan kalimat sebelumnya udah jelas, "berikan yang terbaik untuk kehidupan dan untuk orang lain. Sebanyak-banyaknya". Tanpa harus ada embel-embel dan ngarep bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama pada kita. Soalnya nih, kebayang gak sih kalo setiap tindakan baik yang kita lakukan, berdasar pada keinginan kita untuk diperlakukan seperti apa yang udah kita lakukan untuk orang lain. Kita ngasih sedekah ke fakir miskin, dengan harapan, suatu saat Allah akan membalasnya -entah lewat siapa- dengan kebaikan. Lha iya kalo kita bisa exactly know balasn itu berwujud seperti apa. Kan nikmat Allah itu beraaaagam banget. Beda kalo kita main email-emailan. Kita bisa dengan mudah nge-check apakah email balasan udah kita terima ato belom. Nah kalo balesan itu dari Allah, bisa beragam banget kan bentuknya. Diberi izin untuk masih menghirup udara dengan normal(lewat hidung lalu mengalir ke paru-paru), masih diberi anggota tubuh yang utuh, gigi yang genap(cuma agak bolong-bolong dikit gerahamnya), masih bisa membagi senyum, dll itu kan merupakan anugerah yang oftenly didn't noticed by us. Hayo ngaku...
Kalo kita dah ngasih sesuatu ke org lain. Trus berharap bahwa orang lain melakukan hal yang sama, bisa "makan ati" nih kita kalo balasan itu ternyata tak kunjung datang. MIsalnya, kita ngalah karena ngeliat piring kotor yang menumpuk dirumah. Padahal harusnya tiap orang rumah tahu, "barang siapa ngotorin piring ato gelas, dia juga yang bertanggungjawab mencucinya". Tapi apa kenyataannya? Just do the thing you think it's right. Inget, tanpa harus berharap bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama lho ya.. Soalnya gini, kamu pasti bakal gondok kalo ternyata kejadian tadi berulang-ulang dan selalu saja kamu yang kebagian nyuci cucian milik orang lain. "Yawdah, klo gt tuh cucian diemin aja". Gimana kalo semuanya ternyata pada g peka dan kamu adalah 'the chosen one' untuk melakukan semuanya. Karena kalo bukan kamu yang dengan lapang dada melakukan semuanya, siapa lagi? Mengalah bukan berarti kalah kok. Toh, asalkan kita gak ngarep bahwa orang lain akan melakukan seperti apa yang udah kita lakukan untuk orang lain, semuanya akan terasa lebih ringan. Jadiiii, "berikan yang terbaik untuk hidup kamu dan untuk orang lain, sebanyak-banyaknya. Itu saja". Keep smile yha.. ^-^
-Jika surga dan neraka tak pernah ada-
Bagus ya kalimatnya. Bener tuh yang dikatakan, "Berikan yang terbaik dan yang sebanyak-banyaknya untuk kehidupan kita dan untuk orang lain". Biasanya, tanpa kita sadari, kita tuh sering lho menuntut banyak dari orang lain dan dari kehidupan kita. Padahal kita pun sebenarnya belum memberikan banyak. Kalau mau mencerna lebih dalam, kehidupan ini layaknya sebuah kaca benggala. Ketika kita tersenyum pada kehidupan, maka hidup juga akan tersenyum balik pada kita. Iya to?
Coba inget-inget, Pernah nggak mengalami masa dimana kamu tuh bete banget. Abis itu semua orang kena marah dari kamu, kamu cuekin, kamu gi males untuk care ma temen sekost-an ato temen kelas dll. Trus apa yg kamu dpt? pasti mereka juga jd jutek kan ke kamu, jd gak care ama kamu dan itu malah semakin memperburuk kondisimu yang lagi bete. Misalnya aja kamu pas bete gitu, hirup udara segar diluar sana dalam-dalam. Hirup, nikmati, syukuri. Lalu hembuskan nafasmu perlahan. Ulangi beberapa kali. InsyaAllah akan mengurasi beban yang rasanya nyeseg di dada. Nah kalo gi ngerasa bete dirumah, ya keluar aja bentar. Nyari suasana baru. Kalo dah ktemu temen diluar sana, dan kamu datang dengan senyuman, mereka pun akan menyambutmu dengan senyum yang sama. Alih-alih, mereka memberikan hiburan dan kegembiraan yang saat itu gak kamu dapetin dirumah dan menghapuskan dukamu.
Tapi inget, keluar rumahnya jangan lama-lama, apalagi sampe niat untuk gak balik pulang. Dunia yang bulat ini berputar kok. Dunia yang kecil ini juga bakalan fana, rusak, g abadi. Tangis dan tawa itu tak akan selamanya. Bisa jadi, suatu saat dunia baru menyenangkan yang baru-baru ini kamu temukan juga akan memberikan luka untukmu.
So, hiduplah dimana saja, kapan saja, berikan yang terbaik, sebanyak-banyaknya.
Aniwei, dari kalimat yang panjang lebar diatas tadi, kalimat terahir aku gak setuju. Kenapa kita harus memperlakukan orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain? Kan kalimat sebelumnya udah jelas, "berikan yang terbaik untuk kehidupan dan untuk orang lain. Sebanyak-banyaknya". Tanpa harus ada embel-embel dan ngarep bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama pada kita. Soalnya nih, kebayang gak sih kalo setiap tindakan baik yang kita lakukan, berdasar pada keinginan kita untuk diperlakukan seperti apa yang udah kita lakukan untuk orang lain. Kita ngasih sedekah ke fakir miskin, dengan harapan, suatu saat Allah akan membalasnya -entah lewat siapa- dengan kebaikan. Lha iya kalo kita bisa exactly know balasn itu berwujud seperti apa. Kan nikmat Allah itu beraaaagam banget. Beda kalo kita main email-emailan. Kita bisa dengan mudah nge-check apakah email balasan udah kita terima ato belom. Nah kalo balesan itu dari Allah, bisa beragam banget kan bentuknya. Diberi izin untuk masih menghirup udara dengan normal(lewat hidung lalu mengalir ke paru-paru), masih diberi anggota tubuh yang utuh, gigi yang genap(cuma agak bolong-bolong dikit gerahamnya), masih bisa membagi senyum, dll itu kan merupakan anugerah yang oftenly didn't noticed by us. Hayo ngaku...
Kalo kita dah ngasih sesuatu ke org lain. Trus berharap bahwa orang lain melakukan hal yang sama, bisa "makan ati" nih kita kalo balasan itu ternyata tak kunjung datang. MIsalnya, kita ngalah karena ngeliat piring kotor yang menumpuk dirumah. Padahal harusnya tiap orang rumah tahu, "barang siapa ngotorin piring ato gelas, dia juga yang bertanggungjawab mencucinya". Tapi apa kenyataannya? Just do the thing you think it's right. Inget, tanpa harus berharap bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama lho ya.. Soalnya gini, kamu pasti bakal gondok kalo ternyata kejadian tadi berulang-ulang dan selalu saja kamu yang kebagian nyuci cucian milik orang lain. "Yawdah, klo gt tuh cucian diemin aja". Gimana kalo semuanya ternyata pada g peka dan kamu adalah 'the chosen one' untuk melakukan semuanya. Karena kalo bukan kamu yang dengan lapang dada melakukan semuanya, siapa lagi? Mengalah bukan berarti kalah kok. Toh, asalkan kita gak ngarep bahwa orang lain akan melakukan seperti apa yang udah kita lakukan untuk orang lain, semuanya akan terasa lebih ringan. Jadiiii, "berikan yang terbaik untuk hidup kamu dan untuk orang lain, sebanyak-banyaknya. Itu saja". Keep smile yha.. ^-^
-Jika surga dan neraka tak pernah ada-
Langganan:
Postingan (Atom)